Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Hamied Wijaya: Semangat Ibadah dalam Dunia Kerja

Ahad 08 Dec 2019 12:36 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Maman Sudiaman

Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo 1 M Hamied Wijaya saat di Wawancarai Republika, Selasa ( 26/11).

Foto:
Kinerja para pegawai adalah satu faktor kunci di balik pertumbuhan perusahaan

Apa saja yang Anda lakukan agar suasana kantor mendukung sisi religiositas baik bagi direksi maupun karyawan?

Saya memang, katakanlah, tidak penah mewajibkan shalat berjamaah. Namun, ketika membuka rapat, misalnya mulai pukul 10.00 atau pukul 11.00, sedangkan rapat belum juga selesai, azan telah berkumandang. Maka, saya akan meminta istirahat 30 menit untuk shalat. Ini secara tidak langsung ini mengajak mereka (para karyawan dan direksi yang Muslim) untuk ikut shalat. Saya memberikan contoh dengan pergi ke masjid untuk berjamaah. Jika saya hanya berteriak-teriak tanpa memberikan contoh, tentu tidak bisa berjalan.

Kegiatan lain, misalnya, donasi untuk Palestina. Kebetulan kami memiliki grup WhatsApp “Islam Kaffah”, namanya. Ini grup intinya untuk mengajak pada kebaikan. Saya mengajak donasi dengan memberi contoh lebih dahulu. Begitu juga dengan imbauan berzakat penghasilan 2,5 persen. Saya tidak mewajibkan, tetapi memberikan edaran sukarela untuk dipotong bendahara 2,5 persen. Karena, saya pribadi merasa, di dalam gaji kita itu ada hak orang lain. Kini, dengan hasil dari zakat tersebut Pelindo I memiliki desa binaan, masjid, dan anak-anak asuh di Karo, Sumatra Utara. Anak asuh yang ada di desa binaan itu kita biayai. Mereka dididik untuk menjadi hafiz Alquran. Bantuan juga termasuk untuk sekolah mereka. Kami juga membangun masjid di desa tersebut serta mengirimkan ustaz dari Medan untuk mengajar anak-anak di sana mengaji. Dana seluruhnya berasal dari zakat penghasilan PT Pelindo I.

Saya merasa, dengan ini kami seperti memperpanjang amalan. Misalnya, dengan membantu anak-anak hafiz Alquran. Ketika mereka membaca Alquran, maka insya Allah pahalanya mengalir tidak hanya untuk orang tua mereka, tetapi juga kita. Mungkin kalau soal waktu dan tenaga, kita belum dapat membantu, seperti ikut mengajar mereka. Namun, kelebihan materi itulah jalan yang dapat kami gunakan.

photo
Shalat berjamaah di lingkungan Pelindo I Medan. Foto: Republika/Heru Supriyatin

Bagaimana Anda melihat isu-isu sementara ini tentang ekstremisme yang mengatasnamakan agama?

Sebenarnya, kita akan mengetahui karakteristik pegawai-pegawai kita jika kita mau datang ke tempat mereka bergaul. Di mana? Salah satunya adalah masjid. Percuma jika kita hanya membuat imbauan tentang toleransi atau melarang menyebarluaskan konten hoaks dan semacamnya jika kita sendiri tidak pernah ke masjid.

Sebenarnya, berjamaah ke masjid atau sekadar berkumpul merupakan perilaku normal. Ini menjadi tidak biasa, terutama di kalangan pejabat, karena semakin minim kesadaran mereka untuk datang ke masjid, ikut shalat berjamaah.

Jika seorang pejabat rutin berjamaah ke masjid, ia pun akan paham dan mengetahui bagaimana karakter pegawainya. Juga menyimak ustaz yang berceramah dan isi ceramahnya. Jika memang isi ceramah tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada, seperti keindonesiaan, maka boleh saja tak lagi mengundang penceramah yang dimaksud.

Aneh rasanya jika mereka (pihak pejabat perusahaan –Red) membuat surat edaran, imbauan, yang bahkan melarang ustaz berceramah jika mereka sendiri tidak pernah datang ke masjid. Pegawai maupun anak buah tentu akan menyepelekan hal-hal yang demikian.

Saya juga selalu menasehati para pegawai saya bila mereka, sengaja atau tidak, menyebarluaskan berita fitnah. Saya melarang mereka. Namun, bagi mereka yang tidak mengindahkannya, maka saya bisa saja memberikan peringatan dan menghukum mereka. Alhamdulillah, sampai detik ini di kami tidak ada pegawai yang bertindak demikian.

Saya ingin mereka tetap menjaga produktif bekerja. Jika pun mereka memiliki paham tertentu, itu biarlah untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak boleh mengajak pegawai lain untuk ikut serta. Selama ini pun saya bersikap santai dengan mereka. Jika menasehati, juga sambil guyon. Sebab, saya memang dekat dan mengenal karakter mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA