Minggu, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 Januari 2020

Minggu, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 Januari 2020

Polisi Tangkap Pembalak Liar di Pangandaran

Jumat 06 Des 2019 18:00 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Muhammad Hafil

Pembalakan liar - ilustrasi

Pembalakan liar - ilustrasi

Polisi mendapat laporan awal dari Perhutani tentang pembalak liar di Pangandaran.

REPUBLIKA.CO.ID, CIAMIS -- Polisi menangkap seorang terduga pelaku pembalakan liar di kawasan hutan, di wilayah Langkaplancar dan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Lelaki berinisial J (48 tahun) telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan penebangan pohon secara ilegal di kawasan hutan milik Perhutani tersebut.

Kapolres Ciamis AKBP Bismo Teguh Prakoso mengatakan, polisi awlanya mendapatkan laporan dari pihak Perhutani terkait penebangan ilegal itu. Setelah diselidiki, polisi menangkap lelaki berinisial J beserta sejumlah barang bukti.

"Barang bukti yang berhasil kita amankan dari tersangka, gergaji mesin, golok, tiga sepeda motor yang digunakan tersangka, dan 119 batang pohon yang telah ditebang," kata dia, Jumat (6/12).

Menurut dia, tersangka melakukan aksinya sejak Oktober 2019. Sedikitnya, 13,5 hektare lahan hutan telah ditebang. Akibatnya, Perhutani mengalami kerugian sekitar Rp 1,2 miliar.

Bismo menambahkan, tersangka J melakukan aksinya bersama tiga orang rekannya. Modus operandinya, tersangka membuka lahan dan menanam tumbuhan kapol dengan cara menebang pohon rimba yang ada di kawasan hutan lindung Perhutani tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

"Penebangan liar ini dilakukan bersama-sama, tapi kita baru berhasil menangkap satu tersangka. Ada tiga pelaku lain yang masih kita kejar," kata dia.

Menurut dia, kawasan hutan lindung itu sejatinya tak boleh ditebang. Karena hutan itu berfungsi menjaga kelestarian alam dan mencegah terjadinya bencana, seperti banjir dan longsor.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat dengan pasal 12 huruf (b) juncto pasal 82 ayat (1) huruf (b) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Tersangka  diancaman hukuman 5 tahun penjara.

"Ini merupakan pendidikan masyarakat dan edukasi. Tidak boleh menebang pohon sembarang terutama di kawasan hutan lindung," kata Bismo.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA