Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Fahd Pahdepie Paparkan Enam Tahapan Menuju Terorisme

Kamis 05 Dec 2019 18:25 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Penulis Fahd Pahdepie.

Penulis Fahd Pahdepie.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Enam tahap menjadi radikal adalah salah karena radikal hanya salah satu tahap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fahd Pahdepie selaku praktisi yang mendalami counter narrative to terrorism memaparkan ada enam tahapan terorisme. Hal ini ia sampaikan dalam acara "Seminar Sehari tentang Moderasi Beragama di Kalangan Milenial".

Mengutip teori dari Fathali Mogaddham, ia menyebut seseorang tidak serta merta berubah menjadi seorang teroris. Setidaknya ada enam tahapan yang harus ia lewati.

Fahd menyebut berita yang sebelumnya ditulis Republika.co.id tidak tepat dan ada kesalahan pengutipan. Sebelumnya, Republika.co.id menulis ada enam tangga seseorang menjadi radikal.

"Judul enam tahap menjadi radikal adalah salah. Karena radikal adalah hanya salah satu tahap saja. Yang benar adalah enam tangga menuju terorisme (staircase to terrorism). Teori Fathali Moghaddam," ujarnya kepada Republika.co.id, Kamis (5/12).

Selain itu ia juga menyebut dirinya hadir dalam acara tersebut sebagai praktisi, bukan sebagai Staf Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia. Pernyataan yang ia sampaikan selama acara tidak bisa dikutip sebagai pernyataan tenaga ahli KSP apalagi sikap resmi Kantor Staf Presiden.

Sejak 20 Oktober 2019, ia menyebut sudah demisioner sebagai Tenaga Ahli Madya di Kantor Staf Presiden. Sejak periode pemerintahan pertama berakhir, ia tidak pernah menghadiri undangan atau membuat pernyataan kepada media sebagai Tenaga Ahli KSP.

Selanjutnya, terkait narasi atau cerita dan membangun relevansi, disebut tidak berhubungan dengan penjelasan teori staircase to terrorism. Cerita akan berbunyi jika ada relevansi dengan audiensnya.

"Narasi intoleran akan berbunyi jika dibaca oleh mereka yang tidak menghargai perbedaan. Begitu juga sebaliknya. Kita perlu lebih banyak narasi positif untuk mengampanyekan moderasi beragama," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA