Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Menjaga Tradisi Betawi dari dalam Wajan Tembaga

Kamis 05 Dec 2019 16:15 WIB

Rep: Surya Dinata/Muhammad Rizki Triyana/ Red: Sadly Rachman

Proses pembuatan dodol betawi di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Foto: Republika TV
EMBED
Mejaga lestari kuliner khas Betawi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jakarta, kota dengan kesibukan masyarakatnya yang seakan tak pernah berhenti dari kegiatan bisnis hingga urusan mencari kuliner. Soal kuliner, ada berbagai macam makanan khas Ibu Kota Jakarta yang dulu bernama Batavia. Seperti kerak telor, soto betawi, kue cincin, bir pletok hingga dodol.

Republika TV kali ini akan membahas keunikan dari jajanan legendaris yakni, dodol betawi. Tidak ada yang tau pasti sejarah awal mula pembuatan dodol betawi. Namun, dahulu warga Betawi menyajikan dodol tersebut saat perayaan Idul Fitri atau untuk resepsi pernikahan.

Tidak semua orang mampu membuat dodol betawi. Selain dibutuhkan kesabaran, pun dibutuhkan keahlian khusus saat mengaduk adonan dodol. Hal inilah yang menjadi ciri khas dalam pembuatannya.

Saat tim Republika TV menyambangi salah satu sentra pembuatan dodol betawi di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, informasi yang didapat bahwa usaha keluarga turun temurun ini sudah berjalan hingga generasi ketiga dari keturunan Nyak Mai.

Ya, dodol Nyak Mai namanya. Penerus usaha dodol Nyak Mai, Udin menjelaskan bahwa usaha dodol betawi ini merupakan warisan turun temurun yang berasal dari kakeknya kemudian diteruskan ke neneknya berlanjut hingga ke generasi sekarang.

Ada yang unik dalam proses pembuatannya, dodol memiliki teknik khusus yakni bunyi yang ditimbulkan ketika dodol diangkat kemudian dibanting. Hal itu menjadi kewajiban saat membuat dodol.

Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis membuat siapapun yang menyicipnya menjadi ketagihan. Proses pengadukan dilakukan selama hampir tujuh jam, semua bahan di masak di atas wajan tembaga menggunakan kayu bakar. Cara inilah yang selalu digunakan sejak generasi pertama.

Penasaran mencicipinya? Tenang saja, harga bervariasi, untuk satu gulungan dodol berkisar Rp 15.000 hingga Rp 30.000. Selain itu, khusus untuk pesanan di acara  pernikahan, Udin mematok harga mulai Rp 90.000 hingga Rp 300.000.

Bagi masyarakat asli Betawi ada makna tersendiri saat pembuatan dodol. Yaitu, gotong royong dan kekeluargaan. Itu lantaran proses nya membutuhkan kerja sama dari banyak orang.

Berikut video lengkapnya.

 

 

Videografer | Surya Dinata, M Rizki Triyana

Video Editor | Surya Dinata

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA