Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Menanamkan Cinta Islam Sejak Dini kepada Anak

Kamis 05 Dec 2019 12:59 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Anak Belajar Mengaji dan membaca Alquran (ilustrasi).

Anak Belajar Mengaji dan membaca Alquran (ilustrasi).

Foto: Republika/Musiron
Menanamkan akidah adalah tugas orang tua agar anak mencintai Islam dan syariah

Anak-anak yang belum menginjak usia baligh memang tidak dibebankan taklif (kewajiban) dalam melaksanakan perintah agama, dikarenakan akal mereka masih belum sempurna dan belum pahamnya mereka akan kewajiban melaksanakan ibadah keagamaan. Rasulullah SAW bersabda: "Diangkat pena (taklif hukum) dari tiga golongan: orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar " (HR al-Baihaqi).

Sebagai orang tua kita diperintahkan mengajarkan anak-anak kita pentingnya Syariah Islam, agar ketika baligh nanti mereka paham dan Istiqomah dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Kita ajarkan mereka rutinitas ibadah sejak dini seperti tentang bagaimana berprilaku yang sopan kepada orangtua, bagaimana membaca Alquran dengan baik, mengajarkan bacaan sholat beserta gerakannya, mengajarkan mereka untuk tidak memakan hal yang diharamkan oleh Allah, juga menjauhi semua perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Dalam sebuah hadist berkenaan tentang shalat Nabi SAW bersabda, "Suruhlah anak-anak kalian agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun dan pukulah (jika tidak mau shalat) jika mereka telah menginjak usia sepuluh tahun" Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 495), Ahmad (II/180, 187).

Hadist Rasulullah ini mensyariatkan agar kita mengajarkan tata cara shalat kepada anak-anak sebelum menginjak usia baligh, persiapan ini dilakukan sejak dini walau mungkin terkadang mereka 'rewel' dalam melaksanakannya.

Dari sini perintah mengajari anak terkait akidah, adab maupun syariah merupakan bagian dari syariah Islam yang tidak terpisahkan. Tentu pengajaran tersebut harus mengikuti dari apa yang telah Nabi Muhammad contohkan.

Menanamkan akidah yang kuat adalah tugas pokok orangtua, karena merekalah yang sangat mempengaruhi tumbuh dan kembangnya pondasi agama dalam diri seorang anak. Jangan sampai anak kita teracuni pemikiran sekuler dan liberal sehingga mereka tidak mengenal akan Tuhan-nya. Penanaman akidah sangat penting agar mereka mengenal Allah swt, memahamkan mereka tentang penciptaan kehidupan, alam semesta, dan manusia serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya.

Seorang anak harus paham bahwa ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah serba kurang dan saling membutuhkan kepada yang lain. Itu sebabnya sebagai manusia harus beribadah kepada Allah swt sebagai Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta termasuk juga manusia. kita kenalkan juga kepada mereka tentang sifat-sifat Allah agar mereka tahu bahwa Allah Maha mendengar dan melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia, tentu dengan cara yang baik dan menggunakan bahasa yang di mengerti oleh anak-anak.

Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah bisa membuat mereka semakin cinta kepada syariah dan sunnah yang dibawa oleh Nabi-nya. Kenalkan mereka siapa Muhammad saw, bacakan tentang sejarah perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Islam sehingga agama ini bisa tersebar hingga keseluruh penjuru dunia. Juga mengajarkan tentang sunah-sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah agar diterapkan kedalam kehidupan mereka sehari-hari.

Tanamkan juga sifat tanggung jawab terhadap perbuatan yang mereka lakukan. Hal ini dimaksudkan agar ketika anak melakukan sebuah kesalahan mereka segera menyadari dan tidak akan melakukannya lagi sehingga anak-anak akan berhati-hati dalam melakukan setiap tindakan. Rasa tanggung jawab ini bisa kita ajarkan seperti mencuci piring sendiri setelah makan, membereskan mainan sendiri atau merapikan kamar tidur mereka sendiri. Jika mereka berbuat salah kita ajarkan agar meminta maaf dan bertanggungjawab atas kesalahan yang diperbuatnya.

 Anak akan memiliki adab dan akhlak mulia jika dikenalkan syariah Islam sejak dini seperti kewajiban menutup aurat, memakai jilbab dan kerudung bagi perempuan, sopan santun kepada orangtua, larangan berbuat aniaya terhadap makhluk hidup dan sebagainya. Hal ini agar anak selalu terikat dengan syariah Islam serta menjauhkannya dari pergaulan yang salah.

Orangtua juga harus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak, seperti mengajak mereka shalat berjamaah di masjid, gemar berinfak, atau mengajak mereka mengikuti kajian-kajian Islam. Mencintai syariah sejak dini harus dimulai dari pemberian contoh orangtua kepada anak sehingga tertanam dalam diri mereka benih-benih kebaikan yang mengakar dalam diri mereka hingga dewasa nanti.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman:13).


Wallahu alam bisshowab

Pengirim: Gesang Ginanjar Raharjo, Penulis, Karyawan MI di Malang

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA