Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Ketika Kepala Sekolah Merasakan Kembali Menjadi Siswa

Kamis 05 Dec 2019 06:40 WIB

Red: Fernan Rahadi

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mantaran Kabupaten Sleman, Dhian Yulia Krishantari, terlihat memberikan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) kepada para kepala sekolah dan pengawas sekolah se-Kabupaten Tangerang pada acara Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Aula Pendopo Bupati Tangerang, Rabu (4/12).

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mantaran Kabupaten Sleman, Dhian Yulia Krishantari, terlihat memberikan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) kepada para kepala sekolah dan pengawas sekolah se-Kabupaten Tangerang pada acara Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Aula Pendopo Bupati Tangerang, Rabu (4/12).

Foto: Republika/Fernan Rahadi
Dua guru masing-masing mengajar secara konvensional dan project based learning.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Ada pemandangan yang cukup unik di Pendopo Bupati Tangerang, Rabu (4/12) pagi itu.  Puluhan orang dalam kisaran usia 30-an hingga 50-an tahun terlihat duduk bersila di dalam aula utama pendopo tersebut.

Seorang guru, Supendi, tampak berdiri di depan orang-orang tersebut. Ia memaparkan sebuah materi tentang pemanasan global. Selama sekitar 10 menit, kepala sekolah SDN Mekar Jaya, Panongan, Kabupaten Tangerang, tersebut memberikan pelajaran tentang global warming.

Setelah pemaparan selesai, Supendi langsung mengadakan tes tertulis kepada para hadirin. Ia mengajukan sekitar 10 pertanyaan tentang pemanasan global kepada hadirin yang kemudian menjawabnya melalui secarik kertas.

Tak boleh ada pertanyaan selama ujian tersebut. Soal pun hanya didikte sekali saja tanpa ada pengulangan. Para hadirin terlihat gemas dengan perilaku sang guru yang terlihat otoriter.

Setelah kelas tersebut usai, datang seorang guru bernama Dhian Yulia Krishantari. Berbeda dengan Supendi, ia terlihat ramah sejak awal kemunculannya di aula tersebut.

Kepala Sekolah asal SD Muhammadiyah Mantaran, Kabupaten Sleman, tersebut memulai kelas dengan mengajak mendoakan salah seorang peserta yang tidak masuk karena sakit. Setelah itu, wanita berjilbab itu memulai kelas dengan mengajak para hadirin berdiri dan bernyanyi bersama-sama.

Dhian kemudian meminta para peserta yang terdiri dari sekitar 50 orang untuk membentuk kelompok terdiri dari empat orang. Setiap kelompok kemudian diberi pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Suasana kelas pun lebih hidup karena para hadirin terlihat antusias.

Itulah sekelumit suasana acara Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang berlangsung di Pendopo Bupati Tangerang, 2-5 Desember 2019. Rabu pagi itu, puluhan kepala sekolah dan pengawas sekolah berperan sebagai murid ketika dua orang kepala sekolah berperan sebagai guru dengan pola pengajaran berbeda.

Guru yang satu mengajar dengan cara konvensional, sementara yang lainnya mengajar dengan sistem pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dan project based learning.

Supendi mengatakan tujuan dari kegiatan tersebut agar para kepala sekolah dan pengawas sekolah mampu merasakan apa yang dialami murid ketika pembelajaran konvensional dan pembelajaran berbasis masalah atau proyek diterapkan di sekolah.

"Intinya kami ingin membuat para kepala sekolah dan pengawas merasakan bagaimana para siswanya belajar di sekolah. Apa yang akan terjadi jika sistem pembelajaran dilakukan secara konvensional?" kata Supendi, yang telah menjadi guru selama 30 tahun tersebut.

Di SDN Mekar Jaya, Supendi telah menerapkan sistem pembelajaran berbasis masalah dan berbasis proyek. Hasilnya, anak-anak didiknya tidak hanya belajar caranya berkolaborasi, namun juga mampu menciptakan produk yang bisa dinikmati masyarakat. Salah satunya adalah sabun cuci piring yang terbuat dari daun pandan wangi dan kulit nanas.

Sementara itu, pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal, mengungkapkan harapannya melalui workshop ini para kepala sekolah dan khususnya pengawas sekolah bisa memahami bagaimana proses belajar yang meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta kolaboratif. "Kondisi seperti ini memberikan kemerdekaan belajar bagi guru dan murid di sekolah," tutur Rizal.

Salah satu peserta, Kepala Sekolah SMPN 1 Curug, Syafei, mengungkapkan apresiasinya terhadap sistem pembelajaran GSM yang berbasis proyek dan masalah. Menurut dia, hal ini adalah esensi pembelajaran abad 21. "Sistem seperti ini membuat siswa merasakan makna pembelajaran secara langsung. Namun guru juga harus memiliki waktu untuk mendesain pembelajaran dengan sebaik-baiknya," katanya.

Sementara, peserta lainnya, Wakil Kepala Sekolah SDN Saga 6 Balaraja, Abidah Kholis, mengatakan sistem seperti ini mampu mengajari siswa berpikir kritis dan mengajari mereka bekerja sama. "Pengalaman melakukan pembelajaran seperti ini juga akan sangat membekas kepada anak didik," tuturnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA