Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Kontraktor Migas Sambut Positif Fleksibilitas Kontrak

Kamis 05 Des 2019 03:15 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Kementrian ESDM membahas rencana fleksibilitas kontrak migas dengan DPR. Foto Ilustrasi Kilang Minyak

Kementrian ESDM membahas rencana fleksibilitas kontrak migas dengan DPR. Foto Ilustrasi Kilang Minyak

Foto: dok. Republika
Rencana fleksibilitas kontrak migas masih dalam pembahasan dengan DPR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesian Petroleum Association (IPA) menyambut positif rencana pemerintah yang hendak mengedepankan fleksibilitas dalam kesepakatan kontrak bagi hasil hulu migas. Presiden IPA, Louise McKenzie menilai langkah pemerintah ini merupakan sinyal positif bagi investor.

Sebab, kata Louise tak bisa dipungkiri bahwa bisnis hulu migas penuh dengan resiko. Apalagi setiap proyek hulu migas mempunyai karakteristiknya masing masing.

"Setiap proyek punya resiko yang berbeda dan rewards yang berbeda pula. So, diskusi tentang fleksibilitas adalah sebuah hal yang menarik," ujar Louise di Hotel Dharmawangsa, Rabu (4/12).

Ia juga menilai bahwa pembahasan kontrak hulu migas memang sudah semestinya secara fleksibel. Meski memang, untuk setiap spesifikasi proyek perlu ada pembahasan secara detail dengan para kontraktor.

"Tentu saja, implementasinya perlu ada duduk bersama dan kesepahaman bersama tentang sebuah proyek," ujar Louise.

Louise berharap rencana ini bisa benar benar diterapkan, meski saat ini masih dalam pembahasan dengan DPR. Ia juga berharap dengan adanya fleksibilitas ini maka bisa meningkatkan diskusi antara kontraktor dan pemerintah tentang kerja hulu migas.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengkaji fleksibilitas mengenai skema investasi minyak dan gas bumi (migas) menanggapi sinyal positif meningkatnya investasi hulu migas semakin terbuka.

Arifin Tasrif kembali mempertimbangkan hadirnya kontrak bagi hasil penggantian biaya operasi (Cost Recovery) bagi wilayah kerja baru dan terminasi. Skema tersebut akan menjadi opsi bersama sistem fiskal gross split bagi para investor migas.

"Kami melakukan dialog dengan para investor di bidang migas. Kami tanyakan, mana yang prefer, ada dua (Gross Split dan Cost Recovery)," ungkap Arifin.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA