Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Suhu Panas Manokwari Terus Naik Sejak 2000

Rabu 04 Dec 2019 15:52 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat dari udara. Manokwari mengalami dampak perubahan iklim. Ilustrasi.

Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat dari udara. Manokwari mengalami dampak perubahan iklim. Ilustrasi.

Foto: Republika/Indrianto Eko Suwarso
Manokwari mengalami dampak perubahan iklim

REPUBLIKA.CO.ID, MANOKWARI -- Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat suhu panas di wilayah Manokwari, Papua Barat terus meningkat sejak tahun 2000. Kepala BMKG Stasiun Rendani Manokwari, Denny Putiray, mengatakan Manokwari mengalami dampak perubahan iklim.

Dari data temperatur udara yang direkam BMKG, tercatat suhu rata-rata pada 2000 berada pada 26,8 derajat Celcius. "Suhu terus meningkat pada 2001, 2002 hingga 2003. Pada 2003 tercatat naik menjadi 27,4 derajat Celcius. 2003 hingga 2013 bervariasi naik dan turun dengan rata-rata 27,2 derajat Celcius," kata Denny.

Tahun 2014 hingga 2017 kenaikan terus berlanjut hingga 27,8 derajat Celcius. Tahun 2018 turun satu poin menjadi 27,6 derajat Celcius dan data terakhir pada Agustus 2019 suhu panas di Manokwari masih berada pada angka tersebut.

"Kalau kita lihat ke belakang yang pada tahun 2000 hingga tahun 2017 sudah terjadi kenaikan mencapai satu derajat. Sekarang pada angka 27,6 derajat Celcius. Sebisa mungkin kita harus bertahankan agar tidak terjadi kenaikan," sebut Denny.

Seiring dengan perkembangan pembangunan di daerah tersebut, menurut Denny penurunan suhu sulit terjadi. Sebaliknya, potensi peningkatan besar.

"Kami berharap pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat, kita pertahankan di angka 27,6 derajat Celcius. Jangan sampai naik, karena kalau turun tidak mungkin. Berat sekali untuk menarik turun kalau kita melihat kondisi hutan dan perkembangan pembangunan saat ini," ujarnya.

"Kita disini masih beruntung kelembapan udara masih cukup bagus. Rata-rata masih 80 persen dan curah hujan masih cukup banyak," katanya.

Menurut dia, yang patut dikhawatirkan bersama yakni terjadi kenaikan suhu panas secara terus menerus yang dibarengi dengan penurunan kelembapan udara. Ini akan berdampak pada penurunan curah hujan.

"Kalau ini yang terjadi dampaknya akan sangat besar sebab 60 hingga 80 persen masyarakat Manokwari bergantung dengan air hujan," sebut Putiray. Dampak buruk lain yang dapat terjadi yakni kekeringan hingga bencana banjir saat hujan deras datang.

"Maka sekarang yang harus terus digalakkan adalah program menanam pohon yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, swasta hingga masyarakat," ujarnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA