Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Masjid di Kanada Perkuat Fasilitas untuk Disabilitas

Rabu 04 Dec 2019 03:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid yang dibangun Asosiasi Muslim British Colombia, Kanada.

Masjid yang dibangun Asosiasi Muslim British Colombia, Kanada.

Foto: mwlcanada.org
Masjid di Kanada mulai perbaikan fasilitas untuk disabilitas.

REPUBLIKA.CO.ID,CALGARY-- Masjid di Calgary, Kanada berusaha meningkatkan kesadaran dan menerima Muslim yang menjadi penyandang disabilitas. Pusat Islam Akram Jomaa di Calgary, Kanada ingin menjadi pemimpin di negaranya dalam menerima Muslim yang jadi penyandang disabilitas.

Pusat Islam ini ingin memperbaiki cara penyandang cacat dilihat dan diperlakukan di kalangan komunitas Muslim, serta meningkatkan aksesbilitasnya ke masjidnya, serta menyambut lebih banyak jamaah yang cacat.

Pusat Islam ini juga ingin membuat orang berbicara lebih banyak tentang cacat fisik dan mental, mengubah narasi, dan mengklarifikasi kesalahpahaman di sekitar umat Islam terkait kebutuhan khusus. Bahkan imam senior di Pusat Islam Akram Jomaa di timur laut Calgary telah memasukkan topik itu dalam topik khutbah pekan lalu.

Bahkan pusat ini juga telah bekerja untuk menyelesaikan daftar perubahan yang bisa menjadikannya masjid pertama di Kanada yang memenuhi program sertifikasi masjid yang disusun oleh Muhsen yaitu organisasi nirlaba Amerika Serikat yang mengadvokasi Muslim dengan disabilitas dan mendorong masjid agar lebih inklusif.

"Ini tentang penerimaan dan pemahaman, membangun komunitas yang lebih inklusif," kata wakil ketua pusat Islam Akram Jomaa Nada Merhi seperti dikutip dari laman CBC, Selasa (3/12).

Perempuan yang juga pendorong dibalik perubahan itu ingin memastikan tidak ada keluarga yang tertinggal atau individu yang tertinggal. 

Beberapa masyarakat memang mengaitkan disabilitas dengan rasa malu bahkan hukuman dan jadi sesuatu yang disembunyikan. Bahkan di beberapa bagian dunia Arab, Afrika, dan Asia Selatan, disabilitas masih jadi hal tabu dan banyak warga yang cacat disingkirkan dari banyak aspek kehidupan. Akhirnya mereka diasingkan.

"Saya pikir mereka merasa seperti tidak diterima atau disambut. Di setiap komunitas ada stigma yang dihasilkan dari budata yang harus dilaui," ujarnya saat berbicara dengan Muslim dengan disabilitas.

Selain mengubah kondisi gangguan spektrum autis, hingga celebtal palsy, Merhi juga memiliki daftar perubahan seputar aksesbilitas termasuk peningkatan akses kursi roda, akses lift, pendidikan, program, dan dukungan serta penjangkauan yang lebih baik untuk individu dan keluarga.

Di bagian lain masjid dipasang meja informasi dengan literatur dan selebaran terkait kecacatan dipasang saat shalat Jumat pekan lalu di masjid bagian pria dan wanita untuk berbagi informasi. Nada Merhi mengaku misinya adalah untuk meningkatkan inklusivitas dan berhubungan dengan keluarga untuk bekerja bersama dalam melakukan perbaikan. 

"Saya ingin memahami apa yang mereka butuhkan dari kami dan apa yang mereka inginkan dari kami dan bagaimana kamk dapat mendukung mereka di tingkat (hal) lain," ujarnya.

Sementara itu Ketua Akram Jomaa Omar El-Hajjar mengakui untuk sementara penyandang cacat belum diterima di komunitasnya. 

"Ada sedikit stigma yang terjadi di sana bahwa orang-orang dengan kebutuhan khusus mungkin tidak begitu disambut di pusat-pusat kami dan kami ingin mengubahnya, kami sangat prihatin tentang itu," katanya.

El-Hajjar mengatakan pusat tersebut sudah hampir memenuhi standar sertifikasi Muhsen.

"Kita hampir sampai (memenuhi sertifikasi), kami masih punya beberapa hal yang perlu dilakukan dan salah satunya adalah menyebarkan berita dan itu sudah berjalan dengan sangat baik," katanya.

El-Hajjar mengaku mereka akan terus bekerja dengan para imam untuk menyebarkan kesadaran dan pendidikan di dalam dan di luar masjid, mengingatkan para jamaah tentang kewajiban mereka sesuai iman mereka. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA