Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Pengungsi Suriah di Jerman Hadapi Tantangan Baru

Sabtu 30 Nov 2019 12:00 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Christiyaningsih

Kondisi pengungsi Suriah di perbatasan Hungaria.

Kondisi pengungsi Suriah di perbatasan Hungaria.

Foto: AP Photo/Darko Vojinovic
Kebijakan pembatasan perumahan bagi para pengungsi Suriah di Jerman jadi perhatian

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kebijakan pembatasan perumahan bagi para pengungsi Suriah di Jerman sekali lagi menjadi perhatian. Disahkan pada 2016, Undang-Undang Suaka menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengatur distribusi pengungsi ke kota dan negara lain di Jerman secara adil yang disesuaikan dengan kapasitas masing-masing.

Kementerian Pengungsi di Rhine Utara sebagai negara bagian dengan jumlah pengungsi terbesar di negara tersebut menyebut pemerintah akan memberikan dukungan kepada kota-kota yang menampung para pengungsi. Dilansir Syrian Observer, kementerian menyebut tiga tahun setelah para pengungsi ini mendapat tempat tinggal di Jerman mereka dapat memilih untuk tinggal di mana saja di negara itu.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa UU tersebut masih berlaku untuk saat ini dan belum mengalami amandemen. Pemerintah negara bagian membantah apa yang dilaporkan oleh media lokal tentang pemerintah federal yang berusaha untuk memperpanjang undang-undang dalam waktu tak terbatas selama para pengungsi menerima bantuan dari pemerintah dan pusat kerja.

Tampaknya pernyataan yang dikeluarkan kementerian menjadi kabar baik bagi para pengungsi. Sebagian besar dari mereka selama ini merasa jika keputusan sebelumnya tidak mempertimbangkan prinsip kesempatan yang sama bagi semua masyarakat serta memberikan batasan utamanya bagi mereka yang tinggal di desa-desa kecil.

Salah satu pengungsi di Jerman Selatan, Raed Khamis, menyebut keputusan terbaru memberikan batasan tambahan pada pengungsi dan bertentangan dengan kebijakan integrasi. "Selama tiga tahun saya tinggal di sebuah desa yang sangat kecil dan tidak ada sekolah bahasa, peluang kerja, atau pelatihan kejuruan. Saya harus menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah," ujarnya dilansir Syrian Observer.

Keterasingan desa menjadi penghambat baginya untuk berkomunikasi dan menguasai bahasa Jerman. Ia juga menuntut pemerintah untuk mempertimbangkan masalah yang ada di desa-desa kecil dan kebutuhan integrasi, utamanya sekolah bahasa dan peluang kerja.

Peluang yang tidak seimbang dan tidak merata serta masalah kesenjangan antara kota-kota di Jerman menyebabkan banyak pengungsi mendukung untuk tidak memperpanjang keputusan pembatasan perumahan setelah tiga tahun.

"Meskipun keputusan ini adalah keputusan organisasi, tapi ini pembatasan akan kebebasan pribadi. Hak siapapun untuk memilih tempat ia merasa nyaman. Beberapa ingin berada jauh dari tempat yang bermasalah atau tinggal di daerah yang tenang, bahkan ada yang ingin tinggal di kota besar," ucap salah satu pengungsi, Mohammed al-Ahmed.

Ia juga menyebut tidak ada pengungsi yang bisa membaur jika mereka merasa tidak nyaman secara psikologis. Warga Suriah disebut berada di bawah tekanan psikologis yang besar.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA