Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Kemendag Berniat Turunkan Bunga Resi Gudang

Selasa 03 Des 2019 17:47 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda

Gudang beras (ilustrasi). Kementerian Perdagangan terus mendorong implementasi Sistem Resi Gudang (SRG).

Gudang beras (ilustrasi). Kementerian Perdagangan terus mendorong implementasi Sistem Resi Gudang (SRG).

Foto: kementan
Subsidi bunga akan disalurkan melalui bank-bank pelaksana yang ditunjuk oleh Menkeu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan terus mendorong implementasi Sistem Resi Gudang (SRG). Dengan begitu semakin banyak yang bisa memanfaatkannya terutama petani. 

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayati menjelaskan, SRG merupakan fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh para petani, kelompok tani, gapoktan maupun koperasi tani sebagai suatu instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan. SRG di setiap daerah juga dapat menyediakan akses kredit dengan jaminan barang atau komoditi yang disimpan di gudang.

"Mereka bisa manfaatkan SRG karena ada insentif subsidi dari bunga," kata Tjahja kepada wartawan di Jakarta, Selasa, (3/12).

Untuk meringankan beban bunga bank dalam pemanfaatan SRG, pemerintah telah menerbitkan peraturan tentang pemberian Subsidi Bunga Kredit Resi Gudang melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2009 tentang Skema Subsidi Resi Gudang (S-SRG). Pelaksanaan skema SRG  tersebut juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 66/M-DAG/PER/12/2009 tentang Pelaksanaan Skema Subsidi Resi Gudang.

Subsidi bunga ini akan disalurkan melalui bank-bank pelaksana yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Beban bunga kepada peserta S-SRG itu telah ditetapkan sebesar enam persen per-tahun.
Hanya saja, Tjahja menuturkan, bunga tersebut kini sama dengan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR). Seperti diketahui, tahun depan bunga KUR akan kembali diturunkan dari tujuh persen menjadi enam persen. 

"Jujur, itu jadi kendala bagi kami untuk kembangkan SRG. Alasannya, mereka mikir ngapain pinjam ke RSG mending ke bank, kan bunganya sama," ujarnya. 

Maka, lanjut dia, Bappebti Kemendag berniat menurunkan bunga SRG supaya tetap menarik.
Ia menuturkan, implemetasi RSG berpotensi memberikan kontribusi signifikan bagi tujuan pembangunan sektor industri dan perdagangan yang berbasis sumberdaya lokal.  Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan suatu mekanisme yang meningkatkan akses pasar, ketersediaan informasi mengenai  stok dan mutu komoditi kepada semua yang aktif dalam sektor komoditas. 

Termasuk terkait informasi harga, memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan, mempermudah dalam memperoleh pembiayaan komoditi yang kompetitif. Kemudian memungkinkan mitigasi risiko harga yang lebih efektif dan transparan.

Secara keseluruhan sampai November 2019, jumlah Resi Gudang yang telah diterbitkan tercatat sebanyak 3.341 dengan total volume komoditas sebanyak 110.226 ton. Total nilainya mencapai Rp 718,19 miliar. Rinciannya yakni 84.272  ton gabah, 11.849 ton beras, 7.599 ton jagung, 1.312  ton kopi, 4.299 ton rumput laut, 3,14 ton kakao, 31,16 rotan, 701,73 ton garam, dan 157,43 ton lada.

Pemanfaatan Resi Gudang dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan fluktuatif. Nilai transaksi Resi Gudang tertinggi terjadi pada 2014 dengan diterbitkan sebanyak 605 Resi Gudang bervolume 21.649 ton komoditi senilai Rp 116,51 miliar. Sementara pada 2019, hingga November ini telah diterbitkan sebanyak 379 Resi Gudang dengan volume 10.673 ton komoditi, senilai Rp 97,78 miliar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA