Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Senegal Menimba Ilmu Bioteknologi ke Bio Farma

Selasa 03 Dec 2019 14:08 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Participant dari Senegal bersama Operation Team Leader IsDB, Larbi Neffati (kedua dari kanan) dan Project Management Specialist IsDB, deni Ahmad Fauzi (paling kanan)

Participant dari Senegal bersama Operation Team Leader IsDB, Larbi Neffati (kedua dari kanan) dan Project Management Specialist IsDB, deni Ahmad Fauzi (paling kanan)

Vaksin Bio Farma digunakan di 140 negara.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG -- Satu lagi negara anggota OKI yaitu Senegal yang menimba ilmu ke Bio Farma. Melalui Institut Pasteur de Dakar, Senegal mengikuti program Reverse Linkage (RL) yang diselenggarakan oleh Islamic Development Bank (IsDB) , Bappenas, Kemenkes, BPOM dan Bio Farma.

Baca Juga

Acara yang digelar pada  2 - 6 Desember 2019 ini mengusung tema Development of A Reverse Linkage Project Between Senegal (Institute Pasteur de Dakar) and Indonesia (Bio Farma) in Vaccine Production. Sebelumnya pada tahun 2018, telah dilaksanakan acara dengan program yang sama untuk negara Maroko dan Tunisia.

Menurut Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan Bappenas, Slamet Soedarsono, program Reverse Linkage merupakan kerja sama pembangunan antara IsDB dan sesama negara anggota IsDB yang memiliki kemampuan dalam menyediakan keahlian teruji, pengetahuan (know-how), penerapan teknologi, serta best practices yang berorientasi pada hasil untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi dan sosial.

"Indonesia memiliki keahlian dalam bidang Bioteknologi, bahkan sudah diakui secara global yakni melalui BUMN famasi yaitu Bio Farma," ujar Slamet Soedarsono, Selasa (3/12).

Bio Farma, kata dia, akan membagikan pengalamannya untuk membuat vaksin yang berkualitas sesuai dengan ketentuan dan standar dari WHO. Inti dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan kemandirian dikalangan negara-negara Islam.

Sementara itu Direktur Operasi Bio Farma M Rahman Rostan mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih kepada Kemenkes dan BPOM karena melaui dua lembaga tersebut produk Bio Farma bisa digunakan di lebih dari 140 negara.

Kolaborasi selama ini, kata dia, dijalankan baik oleh Kemkes maupun BPOM telah membawa Bio Farma menjadi rujukan untuk membuat vaksin yang sesuai dengan standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Menurutnya, kepercayaan global terhadap vaksin RI bukan hanya karena Industrinya yang sudah memenuhi kualitas global, juga karena fungsi pengawasannya dari NRA / BPOM yang sudah memenuhi standard internasional dan mendapat pengakuan dari WHO.

Rahman mengatakan, kerja sama dengan Kemenkes RI selama ini pun sudah berjalan dengan baik. Terutama dari sisi penyediaan vaksin untuk kebutuhan vaksin dalam negeri. Selain itu juga penunjukan Bio Farma sebagai laboratorium rujukan untuk negara OKI oleh Kemenkes RI saat Indonesia ditunjuk sebagai CoE oleh OIC pada Desember 2017 yang lalu.

Diharapkan, kata dia, dengan adanya program RL ini, Bio Farma bisa menambah pangsa pasar. Pasar diharapkan tidak hanya di negara anggota OKI, namun untuk seluruh pangsa pasar benua Afrika. 

Dalam jangka panjang program RL, Bio Farma bisa mengirimkan para penelitinya ke negara OIC dan negara Afrika lainnya. Bio Farma ingin berbagi ilmu dan pengetahuan sehingga negara-negara Afrika akan mampu secara mandiri menghasilkan vaksin yang berkualitas untuk negaranya masing-masing. Harapannya dengan mandiri vaksin program SDGs 2030 dapat tercapai yakni, penekanan angka kematian bayi dan ibu hamil serta pemerataan access to medicine bisa tercapai.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA