Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Gerakan Pelihara Satu Ayam Atasi Stunting, Solusikah?

Sabtu 30 Nov 2019 19:58 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga memelihara ayam. Sejatinya bagi keluarga miskin memelihara satu ayam pun sulit dilakukan

Warga memelihara ayam. Sejatinya bagi keluarga miskin memelihara satu ayam pun sulit dilakukan

Foto: Antara/Aswaddy Hamid
Sejatinya bagi keluarga miskin memelihara satu ayam pun sulit dilakukan

Masalah kekurangan gizi atau stunting pada masyarakat tidak bisa di pandang remeh lagi. Pasalnya masih banyak masyarakat khususnya anak-anak Indonesia yang masih mengalami gizi buruk ini.

Baca Juga

Seiring menguatnya desakan banyak pihak agar pemerintah serus menurunkan angka stunting, menteri Moeldoko didukung Mentan akan meluncurkan gerakan nasional pelihara satu ayam tiap rumah. Dengan itu diharapakan terselesaikan masalah gizi buruk yg dialami keluarga miskin.

Memang selayaknya masalah tersebut menjadi tanggung jawab negara memikirkan solusi atas permasalahan ini. Alih-alih memecahkan persoalan stunting dengan berbagai macam rancangan kerja yang dipersiapkan dengan serius, justru pemerintah  seakan-akan menemukan satu jalan keluar dengan melakukan gerakan "inspirimg" yang sesuai dengan akar masalahnya.

Mengutip dari CNN Indonesia, Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan Gizi Anak. Ia mengatakan pemenuhan gizi anak bisa dilakukan dengan memberi asupan telur dari ayam yang dipelihara tersebut.

Faktanya bagi keluarga miskin memelihara satu ayampun membutuhkan modal seperti pakannya, kandangya, pasangannya untuk bertelur, yang tidak murah bagi mereka. Justru menambah beban pemeliharaan bagi keluarga miskin. Inikah solusi inspiring?

Sepatutnya Negara tidak sekedar membuat gerakan nasional yg bertumpu pada keaktifan anggota masayarakat menjalaninya. Namun Negara dituntut membuat kebijakan menyeluruh menghapus kemiskinan dengan pengelolaan yang benar terhadap  Sumber Daya Alam,  memaksimalkan pemberian layanan kebutuhan masyarakat secara gratis berkualitas, khususnya bagi masyarakat miskin.
Mengandalkan pada gerakan nasional menjadi ukuran makin lepasnya tanggung jawab negara terhadap pemenuhan kemaslahatan rakyat.
Dalam Islam dijelaskan bahwa tidak boleh ada kaum lemah di Islam. Karena orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Sehingga masalah stunting tidak akan terjadi jika dilakukan pencegahan dan perhatian nyata dari pemimpin umat, layaknya yang pernah dilakukan khalifah Umar Bin Khatab saat menemukan rakyatnya yang kelaparan, beliau langsung membawa sendiri sekarung makanan bagi Keluarga tersebut. Dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan keluarga miskin itu hingga kuat dan mampu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apa yang dilakukan khalifah Umar semata-mata karena ketakutannya atas azab Allah, jika dalam mengemban amanah sebagai kepala negara masih ada rakyatnya yang terzalimi. MasyaAllah sebuah cerminan pemimpin yang dirindukan. "This is true inspiring". Wallahu a'lam bishawab.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA