Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Cina Bergantung Pada Hong Kong untuk Pasar Internasional

Sabtu 30 Nov 2019 13:31 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Friska Yolanda

Demonstran memegang bendera AS di Hong Kong, Kamis malam (28/11). Demonstran merayakan tindakan Presiden AS Donald Trump yang menandatangi undang-undang yang mendukung otonomi Hong Kong.

Demonstran memegang bendera AS di Hong Kong, Kamis malam (28/11). Demonstran merayakan tindakan Presiden AS Donald Trump yang menandatangi undang-undang yang mendukung otonomi Hong Kong.

Foto: AP Photo/Vincent Thian
Cina baru-baru ini akan membatalkan batas saham asing

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Selama beberapa bulan terakhir, Hong Kong dilanda protes antipemerintah. Meski terjadi kekacauan, asosiasi industri menyebut pasar modal yang ada di wilayah tersebut tetap menjadi gerbang penting antara Cina dan dunia.

Dilansir CNBC, Cina telah berusaha dan meningkatkan upaya untuk membuka sektor keuangannya kepada investor asing. Kepala Eksekutif Asia Securities Industry and Financial Markets Association (Asifma), Mark Austen menyebut Cina baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk membatalkan batas saham asing dan kuota bagi investasi sekuritas asing.

"Cina perlu beralih dari ketergantungan yang berlebihan pada pinjaman bank menuju pasar modal yang lebih dinamis dan likuid untuk mendanai pertumbuhan ekonomi mereka ke depannya," ujar Austen, Jumat (29/11).

Ia juga menyebut saat ini Hong Kong masih menjadi satu-satunya akses keluar-masuk ke Cina dalam jangka menengah. Hanya ini pilihan yang dimiliki oleh Cina untuk terhubung dengan dunia luar.

Keunggulan Hong Kong atas Cina terletak pada keterbukaannya pada investor asing dan kuatnya aturan hukum yang ada. Dua hal ini penting untuk dipertahankan. Austen juga menyebut daya tarik ini dibuktikan dalam listing Hong Kong dimana raksasa teknologi Cina, Alibaba, baru-baru ini menarik permintaan kuat dari para investor.

Listing sekunder Alibaba yang dinilai menjadi penawaran terbesar dunia sejauh ini terjadi di tahun 2019 ini. Di tengah-tengah sentimen bisnis di Hong Kong akibat protes yang terjadi, Alibaba tetap menarik perhatian investor.

"Terlepas dari apa yang  terjadi di Hong Kong saat ini, Alibaba telah membuktikan bahwa pasar di Hong Kong masih stabil, masih likuid," ucapnya.

Keterbukaan Cina dinilai masih akan menjadi sebuah tren yang berlanjut. Kepala staf kredit untuk Asia Pasifik di Moody's Investors Services, Michael Taylor menyebut jangkauan dan kecepatannya tergantung pada stabilitas keuangan di negara tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA