Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Emisi Gas Rumah Kaca Jepang Raih Rekor Terendah pada 2018

Sabtu 30 Nov 2019 12:52 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Friska Yolanda

Warga memberi sedekah kepada biksu Budha di pusat perbelanjaan Ginza di Tokyo, Jepang, Rabu (13/11).

Warga memberi sedekah kepada biksu Budha di pusat perbelanjaan Ginza di Tokyo, Jepang, Rabu (13/11).

Foto: AP Photo/Koji Sasahara
Penurunan emisi didorong peralihan pembangkit listrik ke nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Emisi gas rumah kaca Jepang pada tahun 2018 dinilai sebagai yang terendah dalam sepanjang catatan yang ada. Namun, pemerintah Jepang mengaku masih perlu mengurani nilai emisi tersebut.

Data awal yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Jepang menyebut ini dibantu oleh cuaca musim dingin yang hangat, peningkatan output penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Ini juga berkat pengurangan konsumsi daya rumah tangga.

Meski berhasil mengurangi efek emisi gas, kementerian mengaku masih harus menempuh jalan panjang untuk mencapai tujuannya yakni memotong 26 persen dari data yang dihasilkan pada 2013. Target ini dibuat bersamaan dengan perjanjian iklim Paris dan harus terpenuhi pada 2030. Kementerian menilai masih diperlukan upaya lebih untuk mengurangi emisi.

Emisi gas Jepang telah mengalami penurunan sejak lima tahun yang lalu. Penurunan emisi pada Maret tahun lalu tercatat hanya 11,8 persen dari angka yang didapat pada 2013.

Dilansir di Japan Today, dari data tersebut diketahui terjadi penurunan sebesar 3,6 persen dari tahun 2017 dengan total setara 1,24 miliar ton karbon dioksida. Nilai ini setara dengan emisi gas yang dikeluarkan Jepang pada tahun 2009 yakni 1,25 miliar ton karbon dioksida.

Pengurangan output emisi gas yang dikeluarkan pembangkit listrik menggunakan bahan bakar fosil terjadi akibat peralihan menuju PLTN. Nilainya dua kali lipat lebih rendah dari catatan tahun 2017.

Angka ini didapat meskipun tidak ada pabrik yang mulai kembali beroperasi pada 2018. Kelancaran operasional reaktor yang telah dicek keselamatannya pasca bencana nuklir 2011 pun mengambil peran dalam penurunan gas emisi rumah kaca Jepang.

Emisi gas dari rumah tangga tercatat turun sekitar 20 persen. Penggunaan peralatan rumah tangga yang hemat energi terjadi secara masif dan lebih sedikit yang menggunakan alat pemanas karena cuaca di musim dingin yang hangat.

Di sisi lain, peningkatan penggunaan pendingin udara menyebabkan emisi hidrofluorokarbon dan gas serupa meningkat 9,4 persen pada tahun 2018. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA