Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Mengapa Pesta Diskon Black Friday Dikecam?

Sabtu 30 Nov 2019 02:40 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Reiny Dwinanda

Black Friday. Aktivis hingga politikus kecam pesta diskon Black Friday.

Black Friday. Aktivis hingga politikus kecam pesta diskon Black Friday.

Foto: picodi
Aktivis hingga politikus kecam pesta diskon Black Friday.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Orang-orang di Prancis, Rusia, dan Afrika selatan tidak merayakan Thanksgiving. Meski begitu, mereka tetap berbelanja saat pesta diskon Black Friday digelar.

Demam Black Friday telah menjalar ke berbagai retail di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir. Masifnya penjualan yang terjadi selama pesta diskon itu pun menuai beragam reaksi dari aktivis, politikus, bahkan konsumen.

Pekerja Amazon di Jerman, contohnya, melakukan mogok kerja demi mendapatkan bayaran yang lebih baik pada salah satu hari tersibuk tahun ini. Di dekat Paris, aktivis iklim memblokir salah satu gudang raksasa ritel dan memrotes produksi berlebih yang menurut mereka dapat membunuh planet ini.

Baca Juga

Tidak hanya itu, beberapa anggota parlemen Prancis bahkan ingin melarang Black Friday. Kelompok pembela hak konsumen di Inggris dan beberapa negara lain mengatakan, retail menggunakan Black Friday semata sebagai slogan untuk memikat pembeli.

Dalam pelaksanaannya, menurut aktivis pembela hak konsumen, tidak jelas seberapa besar diskon yang diberikan. Bahkan, pengkritik lain mengatakan, kegiatan ini mencederai bisnis kecil.

Bagi para aktivis Prancis, Black Friday adalah lambang dari pergeseran atas tradisi lokal. Kegiatan ini dianggap sebagai sebuah acara komersial yang dirancang untuk mendorong retail menjual barangnya sebelum liburan Natal. Ini menjadi salah satu simbol kapitalisme.

"Planet ini terbakar, lautan mati, dan kita masih ingin terus mengonsumsi dan mengkonsumsi, lalu memproduksi sampai kita semua makhluk hidup habis? Kami tidak akan mengkhianati anak-anak kami dengan diskon 30 persen!" ujar salah satu pemrotes di sekitaran Paris, seperti dilansir New York Post, Jumat (29/11).

Penelitian yang dilakukan oleh asosiasi konsumen Inggris menemukan bahwa 61 persen barang yang diiklankan dalam transaksi Black Friday tahun lalu lebih murah atau sekitar harga yang sama baik sebelum dan sesudah acara. Sementara itu, pengawas konsumen Rusia mengeluarkan pernyataan panjang berisikan tips tentang cara menghindari tertipu promo murah.

Beberapa tips yang diberikan menyangkut pengecekan harga barang yang dijual, apakah sudah dinaikkan sebelum kegiatan berlangsung untuk membuat promo terlihat bagus atau apakah biaya pengiriman meningkat. Lantas, surat kabar mingguan Mail & Guardian di Afrika Selatan dalam editorial pedasnya mengutuk bagaimana Black Friday digunakan untuk memperkaya pengecer besar.

"Tidak seperti hari lainnya, Jumat ini menunjukkan betapa hancurnya dunia yang telah kita bangun," katanya.

Kekhawatiran lain yang muncul dengan adanya Black Friday adalah merusak bisnis kecil yang tidak memiliki anggaran pemasaran yang luas dan kehadiran penjualan daring dari rantai ritel besar atau perusahaan multinasional. Komite legislatif Prancis mengeluarkan amandemen Senin (25/11) lalu yang mengusulkan larangan Black Friday karena menyebabkan pemborosan sumber daya dan konsumsi berlebihan. Serikat e-commerce Perancis yang secara agresif memasarkan penjualan Black Friday sepanjang November, mengecam tindakan tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA