Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Kekerasan Kembali Muncul di Cile

Kamis 28 Nov 2019 07:23 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Pengunjuk rasa antipemerintah bentrok dengan polisi di Santiago, Cile.

Pengunjuk rasa antipemerintah bentrok dengan polisi di Santiago, Cile.

Foto: AP Photo/Esteban Felix
Penjarahan di Cile menyebabkan peso jatuh.

REPUBLIKA.CO.ID, SANTIAGO -- Presiden Cile Sebastian Pinera memperingatkan tentang potensi bahaya yang tidak dapat diperbaiki atas kekerasan yang kembali muncul, Rabu (27/11). Kondisi menjadi lebih buruk ketika penjarahan terjadi secara nasional dan peso jatuh ke tingkat rendah dalam sejarah negara itu.

"Kekerasan menyebabkan kerusakan yang mungkin tidak dapat diperbaiki bagi tubuh dan jiwa masyarakat kita," kata Pinera dari istana kepresidenan La Moneda.

Pinera mendesak Kongres mendorong permintaan pekan lalu untuk meningkatkan keamanan dan memperkuat hukuman terhadap penjarahan dan perusakan. Lebih dari lima pekan protes atas ketidaksetaraan dan layanan sosial yang buruk terjadi dan menekan pemerintahan Cile.

Jaksa penuntut menyatakan, kerusuhan telah menewaskan sedikitnya 26 orang dan lebih dari 13.500 terluka. Kerusuhan telah mengganggu sistem transportasi umum di ibu kota dan menyebabkan kerugian hingga miliaran bagi bisnis swasta.

Kepala Senat Cile Jaime Quintana mengatakan di Twitter, Pinera yang konservatif perlu bertanggung jawab atas kekerasan tersebut. "Pemerintah masih jauh dari melakukan segala yang dapat, dan seharusnya, telah dilakukan," kata sosok dari kubu kiri-tengah ini.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan, polisi menangkap 915 orang pada Selasa. Sementara jumlah insiden serius dalam semalam hampir dua kali lipat dari hari sebelumnya.

Beberapa orang menjarah sebuah hotel besar di kota wisata pantai La Serena, membalik meja, merobek lukisan dari dinding dan memecahkan jendela. Para pengunjuk rasa juga menargetkan daerah-daerah kelas atas Santiago, berbaris melalui sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran gunung La Dehesa di awal pekan ini dan yang lainnya di Las Condes pada Rabu.

Para pejabat telah menutup stasiun metro utama pada Rabu sore di seluruh area bisnis ibukota, Sanhattan. Kekerasan meningkat membuat wilayah dengan gedung pencakar langit dan toko-toko desainernya pun harus ditutup.

Upaya Pinera memadamkan kekerasan sejauh ini gagal, meskipun ada janji untuk menambah pensiun, upah minimum, dan tunjangan kesehatan. Partai-partai politik di negara itu juga telah sepakat bekerja sama dalam konstitusi baru.

Protes tampaknya didorong oleh ketidakpercayaan politikus akan menepati janji untuk membawa perubahan signifikan. Demonstran pun marah atas penanganan polisi kepada rekan-rekan yang telah turun ke jalan.

Kerusuhan juga meletus di negara-negara di seluruh Amerika Latin, termasuk Kolombia, Ekuador dan Bolivia dalam beberapa bulan terakhir. Kerusuhan pun telah meningkat menjadi kekerasan dan tuntutan untuk reformasi politik, sosial dan ekonomi.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA