Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Dilema Tujuan Pendidikan Nasional

Rabu 27 Nov 2019 19:05 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 di halaman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Senin (25/11).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 di halaman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Senin (25/11).

Foto: Republika/Prayogi
Tujuan pendidikan nasional akan tercapai bila pemerintah dan masyarakat bersinergi

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Demikian tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut Pasal 3 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Terlihat begitu indah dalam kalimat dan susunan kata-katanya yang panjang.

Jika diamati, ada tiga aspek yang ingin dicapai dalam tujuan di atas yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam aspek kognitif pendidikan diharapkan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa yang salah satu indikatornya peningkatan ilmu pengetahuan.

Dalam aspek afektif pendidikan diharapkan mampu mencetak anak bangsa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, demokratis dan bertanggung jawab. Sedangkan dari segi psikomotorik pendidikan harus menjadikan manusia cakap, kreatif, mandiri dan sehat. 

Semua aspek di atas harus dicapai dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari jalur formal, non formal sampai informal. Namun apakah semua dapat terwujud mulus tanpa hambatan jika melihat situasi jaman sekarang ?

Zaman sekarang informasi berkembang pesat. Segala informasi dari segala penjuru dunia dapat diakses dalam genggaman tangan. Selama ada koneksi internet informasi apapun bisa didapat dengan mudah dan cepat dari smartphone kita. 

Sayangnya tidak semua informasi bisa dikonsumsi. Beberapa sesuai fakta dan berguna. Tapi banyak juga yang dalam kategori hoaks dan bisa membodohkan bangsa.

Dalam berkomunikasi juga demikian. Dengan berbagai aplikasi media media sosial hubungan horisontal sesama manusia dari segala penjuru dunia tercipta begitu mudah seperti jalan tol bebas hambatan. Tiada lagi sekat pembatas terasa di dunia maya.

Hanya sayangnya tidak semua bentuk komunikasi sesuai norma. Faktanya media sosial seringkali dijadikan media penipuan, prostitusi, dan hal negatif lainnya dan hal ini sudah banyak ditemui dalam berita-berita yang beredar di berbagai media massa.

Yang lebih penting lagi jaman sekarang manusia sudah dipermudah dalam menjalankan aktifitas. Untuk berbelanja tidak perlu lagi berjalan ke pasar. Untuk bepergian ke suatu tempat tidak perlu juga jalan ke terminal. Semua dapat ditangani dengan satu aplikasi dalam smartphone saja. 

Tinggal klik tombol pesan dalam aplikasi barang yang mau dibeli datang di rumah. Tinggal klik tombol lagi jemputan sepeda motor atau mobil sudah datang di depan rumah siap mengantar ke tujuan.

Demikianlah gambaran sekilas situasi jaman sekarang. Yang harus disadari bangsa yang cerdas tidak akan terbentuk jika informasi hoaks yang jadi konsumsi utamanya. 

Bangsa yang berkarakter juga tidak akan tercipta jika dalam hubungan horisontal norma-norma tidak dijaga.

Sedangkan bangsa yang sehat tidak akan terwujud jika rakyatnya malas bergerak. Mens sana in corpore sano. Kata-kata ini dari pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis pada abad kedua masehi. Artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

Sekilas terasa berat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Ada satu dilema antara fakta keseharian dan esensi tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan. 

Meskipun demikian bukan berarti mustahil untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional di atas. Sudah banyak usaha dilakukan oleh banyak pihak untuk menjadikannya lebih dari sekedar konsep dan impian indah.

Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dapat dinilai sebagai usaha pemerintah dalam mewujudkan tujuan afektif pendidikan.

Di sekolah Peraturan Pemerintah di atas telah dilaksanakan. Secara teknis pelaksanaanya berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal.

Tujuan yang ingin dicapai Permendikbud di atas adalah menanamkan nilai-nilai karakter seperti nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Selain itu kehadiran Dewan Pers juga perlu disambut hangat. Keberadaannya dapat meminimalisir munculnya informasi negatif. Verifikasi administrasi dan kefaktualan pada media massa yang telah mereka lakukan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan media massa yang telah mereka verifikasi.

Demikianlah tujuan pendidikan nasional. Sekilas terasa berat untuk mewujudkannya. Namun ini akan mudah dilakukan jika ada sinergi yang anggun antara pemerintah, masyarakat dan lembaga pendidikan.

Pengirim: Ilham Wahyu Hidayat, Guru SMP Negeri 11 Malang

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA