Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Paradoks Benyamin, Albar Hingga Agnes Mo: Jangan Baperan!

Rabu 27 Nov 2019 04:59 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Artis Agnes Monica berjalan keluar Komplek Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Artis Agnes Monica berjalan keluar Komplek Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Paradoks Benyamin, Albar Hingga Agnes Mo

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

''Hidup itu paradoks!' Kalimat ini kiranya layak untuk mencermati isu orang ribut bukan main di media sosial tentang sosok si 'Tra lala-Tra Lili', Agnes Monica. Hari ini Agnes menjadi perbincangan gegara pernyataan dia yang mengaku bukan berdarah Indonesia, hanya lahir di Indonesia.

Pihak yang setuju menganggap Agnes sosok yang jujur. Mereka menolak tuduhan pihak kontra yang menyebutnya tak nasional karena Agnes juga mengakui bisa diterima hidup di Indonesia yang memang menganut Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu, jujur saja apa yang dikatakan Agnes bagi generasi milineal hari itu biasa saja. Apalagi, para milienal kaya atau 'anak Jakarta Selatan' omongan itu sudah basi. Mereka sehari hari di sekolah dan antar teman bercakap dengan bahasa Inggris. Pikiran dan acuannya mereka bukan Indonesia. Maka tak heran ketika mereka bercakap penuh dengan idiom Inggris seperti 'Whichis, bay the way, bro, you' dan lainnya.

Cara omongan mereka mirip bule mandor perkebunan zaman kolonial VOC yang kerap bicara ala dialog film 'jadul' dengan cletukan kalimat 'en kowe, esktrimis', overdom',  dan lainnya.

Pada hal lain, bagi generasi milenial, hidup dan terkenal di luar negeri seperti yang tengah dikejar Agnes memang menjadi impian. Lihat saja, anak-anak kampung kini tak lagi tergiur dengan gemerlap Jakarta. Mereka ingin mengadu nasib ke kota-kota dunia seperti Jepang, Seul, Hongkong, Abu Dhabi, New York, London dan lainnya. Hidup di Jakarta itu impian masa lalu milik generasii 80-an.

Lagi pula bayangannya, hidup di luar negeri bagi generasi milineal itu lebih baik. Dalam pikiran mereka kalau sekedar menuruti kata patriotik kini mereka hanya melihat hidup yang sengsara. Memang yang beruntung bisa jadi stafsuf presiden dengan gaji lebih dari 50 juta sebulan. Tapi bagi yang tidak, alias anak orang biasa yang lulusan SMK, mereka kebanyakan hanya tersuruk jadi tukang ojek dan sopir on line. Kalau sedikit punya pendidikan, jadi guru honorer. Tapi gajinya menyedihkan jauh di bawah upah minimun regional. Di sini wajar bila kerja di negeri asing seperti Agnes itu impian.

Akibat lainnya, banyak anak milineal mulai menganggap negara hanya sebatas warna paspor. Bagi anak milenal kaya ini makin tak penting, selain karena zaman sudah menyempit alis dunia sekedar sebuah kampung, mereka dari kecil sudah terbiasa bolak balik ke luar negeri. Apalagi banyak pejabat di era masa kini yang kerap pidato soal nasionalisme semua jenjang pendidikannya diselesaikan dengan pergi ke luar negeri. Maka dalam hal ini  Agnes tak peru dicemberutin sebagai sosok tak patriotik.

Di zaman lalu, tahun 1960-70 an model generasi milenial ala 'Jakarta Selatan' ini pun embrionya sudah ada. Generasi ini disebut 'anak Menteng'. Pada dekade itu mereka juga dituduh tak nasionalis, suka hura-hura, atau tidak punya kepribadian bangsa. Bung Karno menyebutnya sebagai generasi awur-awuran alias 'ngak ngik ngok'. Generasi tua yang kala itu tergila secara akut pada cauvinsme, menuduhnya dengan kelompok kontra revolusi yang berkepala batu.

Tapi dikhotbahi seperti itu apakah mereka jera? Jawabnya tidak sama sekali. Anak muda di zaman itu cuek saja. Mereka ribut bernyanyi antikemapanan dengan rock and rol  'The Beatles'. Zaman bapak mereka yang serba klimis ala Elvis Presley mereka buang jauh-jauh ke laut. Maka muncullah gaya rambut berponi, celana tutup botol, hingga jingkrak-jingkrak menyanyi ribut ala lagu 'I Saw Standing There'. Mereka meninggalkan keemasan lagu kroncong yang mendayu dayu dan sangat populer.

Dan demi pendobrakan zaman, para generasi milenial kala itu juga berani bertaruh. Di jalanan mereka kerapkali terkena razia gegera potongan rambut yang gondrong dan bercelana jengki kayak tutup botol itu. Sebagian kelompok pemuda, yakni Pemuda Rakyat, ikut ribut merazia berbagai pementasan musik. Ini dialami Koes Plus yang kala itu ditangkap dan dicokok ke penjara Glodok gara-gara 'main beatle-beatlen' di sebuah resepsi orang kaya di Jakarta Timur. Tapi mereka kagak kapok. Gaya baru mencintai negara terus merembes.

''Tiba-tiba sekolompok pemuda beserta aparat masuk. Mas Toni yang lagi bernyanyi 'I Saw Standing There' disuruh berhenti. Kami pun ditangkap di bawa ke penjara Glodok,'' kata Yon Koeswoyo mengenangkan saat dia ditangkap itu.

Setelah itu, pada dekade 70-an gugatan tentang jati diri ke Indonesian makin menjadi. Apalagi saat itu dalam waktu bersamaan terjadi perbedaan selera rezim karena berubah dari Orde Lama menjadi Orde Baru. Kebebasan muncul di mana-mana. Anak milenial Menteng-- yang kala itu menjadi acuan gaya anak muda Indonesia-- makin bebas mengakses selera. Musik barat hingga radio swasta bermunculan menyaingi radio yang menjadi corong resmi pemerintah, yakni RRI.

Dan dari Bandung, muncul anak muda 'bengal' yang namanya Yophie Tambayong alias Remy Silado. Dia semangat sekali mengolok-olok selera lama dan gegar budaya. Dia juga mengolok mereka yang mengaku punya cap Indonesia asli. Katanya, "Lucu ngomong asli sebab dari sononya, asal usul kata Indonesia, itu berasal dari bahasa asing (Eropa: Indo dan Nesos)".

Tak cukup dengan itu Remy malah ramai menyebut Indonesia Raya tak sepenuhnya lagu karya orang sendiri. Irama lagu itu -terpengaruh lagu 'Leka Leka-Pinda Pinda' yang kala WR Supratman menulis kebangsaan lagu tersebut, lagu ini tengah terkenal di negeri Belanda. Juga lagu wajib 'Dari Barat ke Timur' beberapa bar di awal mencontek lagu kebangsaan Prancis.

Beberapa dekade kemudian Remy  semakin 'nekad' menggugat soal ke aslian Indonesia. Dia menyebut 9 dari 10 kata dalam bahasa Indonesia itu kata 'asing'. Dia menyebut begini dalam sebuah perbincangan.

''Coba kamu lihat asal usul kata dalam teks proklamasi. Mana yang asli Indonesia. Misalnya kalimat ini: Proklamasi. Kami bangsa Indonesia, Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno Hatta,'' katanya.

Dan Remy yang sangat piawai dalam berbahasa mulai menguarai begini. Proklamasi (bahasa Inggris), bangsa (sansekerta), Indonesia (Yunani/Eropa). Menyatakan (Nyata/Jawa) kemerdekaan (Mahardika/Sansekerta), Soekarno (Jawa(, Hatta (Arab/Attar).''Jadi mana yang asli?'' ujar Remy lagi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA