Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Pertamina akan Rambah Bisnis Baterai Mobil Listrik

Selasa 26 Nov 2019 20:05 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih

Seorang petugas mengisi ulang sepeda motor listrik disela-sela konvoi mobil listrik di Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Seorang petugas mengisi ulang sepeda motor listrik disela-sela konvoi mobil listrik di Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Foto: ANTARA FOTO
Pertamina masih mencari partner perusahaan baterai yang memiliki akses pasar global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina menyatakan ingin mendukung program pemerintah Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) pemerintah. Perseroan pun berencana masuk ke industri tersebut. 

Baca Juga

Vice President New and Renewable Energy Investment Planning and Risk Management Directorate Kristyadi Winarto menuturkan, di awal, Pertamina akan merambah industri baterai demi mempersiapkan kendaraan listrik.

Langkah itu diambil, sebab perusahaan menyadari minyak bumi bisa habis dan tidak dapat diperbarui. “Maka selanjutnya, kita beralih ke bisnis baterai dan charging,” kata Kristyadi kepada wartawan di Jakarta, Selasa, (26/11).

Hanya saja rencana itu masih dalam kajian. "Kami nantinya ingin manfaatkan SPBU yang ada untuk dipasang charging (pengisi daya), maka kami harus bicara dengan PLN mengenai tarif listrik dan izin penjualan listrik," jelasnya. 

Pertamina juga masih mencari partnership perusahaan baterai yang memiliki akses pasar global. Dengan begitu diharapkan, perusahaan bisa diterima dalam industri ini. 

"Walau pun secara personal kita punya kemampuan. Hanya saja untuk lebih menjual produknya perlu partner," kata Kristyadi. 

Sampai sekarang dirinya mengaku, belum tahu seberapa besar dana yang akan dikeluarkan untuk membangun industri baterai mobil listrik. Meski begitu dirinya yakin, jika banyak kendaraan beralih ke tenaga listrik, maka 94 persen energi tidak perlu impor lagi. 

"Jadi pengurangan biaya impor. Kalau listrik perlu fosil dan lain-lain itu kita nggak impor malah ekspor," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA