Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Natal Tahun Baru, Garuda Lebih Pilih Gunakan Pesawat Besar

Selasa 26 Nov 2019 13:34 WIB

Rep: Rahayu Subekti / Red: Friska Yolanda

Pesawat Garuda Airbus 330-300 di Hanggar 4 GMF Aeroasia, Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Senin (1/2).

Pesawat Garuda Airbus 330-300 di Hanggar 4 GMF Aeroasia, Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Senin (1/2).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Terdapat 2.494 kursi tambahan selama masa libur Natal dan Tahun Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada libur Natal dan Tahun Baru 2019/2020, Garuda Indonesia lebih memilih untuk tidak membukan penerbangan tambahan. Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan Garuda akan menggunakan pesawat berbadan besar dalam menghadapi lonjakan penumpang saat libur Natal dan Tahun Baru 2019/2020.

"Ada pergantian pesawat dari Boeing 737 ke Boeing 777 ke Airbus 330. Masyarakat bisa menikmati pesawat baru yang lebih besar juga kapasitas penumpangnya," kata Pikri di Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Selasa (26/11).

Pikri menjelaskan menggunakan pesawat berbadan besar lebih efektif ketimbang membuka penerbangan tambahan saat musim Natal dan Tahun Baru. Sebab jika menambah satu penerbangan tambahan, dia mengatakan hanya ada penambahan sekitar 320 kursi.

Baca Juga

"Tapi kalau kita gunakan pesawat berbadan lebar ada Boeing 777 ada Airbus 330 bisa dua kali lipat dari 360 kursi satu penerbangan tambahan, ini bisa sampai tiga kali lipat penambahan kapasitas penumpang," jelas Pikri.

Untuk itu, Pikri menegaskan Garuda lebih memilih strategi untuk menggunakan pesawat berbadan besar. Dengan penggunaan pesawat berbadan besar, Pikri memastikan terdapat sebanyak 2.494 kursi tambahan selama masa libur Natal dan Tahun Baru 2019/2020. 

Selain itu, penggunaan pesawat berbadan besar juga menurut Pikri lebih menguntungkan bandara. "Nanti bandara juga tidak padat karena ada penerbangan tambahan sehingga kepadatan bandara tetap terjaga," ungkap Pikri. 

Terlebih saat ini jumlah //take off dan //landing di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebanyak 80 penerbangan perjam. Jika ada penambahan penarbangan saat jam sibuk, Pikri menilai akan berisiko hingga keterlambatan pesawat. 

Pikri memastikan pesawat berbadan besar akan dialokasikan untuk rute kota-kota besar. Beberapa diantaranya seperti ke Jakarta-Surabaya, Jakarta-Denpasar, dan Surabaya-Denpasar. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA