Sunday, 21 Rabiul Akhir 1442 / 06 December 2020

Sunday, 21 Rabiul Akhir 1442 / 06 December 2020

Taj Magal

Taj Mahal, Agra, dan Upaya India Menghapus Sejarah Islam

Selasa 26 Nov 2019 10:46 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Taj Mahal India

Taj Mahal India

Foto: EPA
Ratusan tempat dengan nama Islam terancam diganti di India.

Oleh Teguh Setiawan, Wartawan Senior

India sedang berusaha ‘menulis ulang’ sejarah Islam, dengan mengganti nama Agra—ibu kota Dinasti Mughal—dengan nama yang berbau Hindu.

Arabnews melaporkan, pihak berwenang negara bagian Uttar Pradesh di utara India telah membentuk sebuah komite pada 18 November 2019, yang menugaskan Universitas Ambedkar mencari nama yang cocok sebagai pengganti nama Agra.

“Kami tela menerima surat dari pemerintah negara bagian untuk mencari tahu apakah Agra pernah dikenal dengan nama lain,” kata Prof Sugam Anand, kepala departemen sejarah Universitas Ambedkar.

Agra adalah rumah bagi Taj Mahal yang terkenal. Setiap tahun Agra dikujungi jutaan wisatawan, yang ingin menyaksikan keindahan Agra.

Kota ini mulai dikenal dunia ketika Silander Lodi, penguasa Muslim memindahkan ibu kota dari Delhi ke tempat ini pada 1504. Lokasi Agra saat itu sangat strategis.
Babar, penguasa Mughal pertama, mempertahankan Agra sebagai ibu kota dan meletakkan dasar bagi pembangunan Benteng Agra—pusat kekuatan Mughal.

Akhir abad ke-16, Raja Akbar mencoba membangun ibu kota baru di Fateh pur Sikri — tidak jauh dari Agra. Rencana itu dibatalkan karena ketidaktersediaan air yang cukup untuk menghidupi kota.

Hasil gambar untuk Agra        Keterangan Foto: Benteng Merah di Agra

Awal abad ke-17, Shah Jahan—penguasa Mughal berikut—membangun Taj Mahal, sebuah monumen putin untuk mengenang Mumtaz Mahal, di tepi Sungai Yamuna di Agra.

Pada 1648, Shah Jahan memindahkan ibu kota ke Delhi, tapi Agra tak kehilangan daya tarik. Bahkan, Agra menjadi sedemikian menarik berkat Taj Mahal, simbol cinta suami kepada istri.

Setiap tahun, 1,6 juta wisatawan mengunjungi Agra dan menghasilkan pendapatan lima juta dolar AS.

Dua tahun lalu, sebagai upaya mengubur situs-situs peninggalan Islam, pemerintah negara bagian Uttar Pradesh—yang dikuasai Paratai Bharatia Janata (BJP)—memindahkan Taj Mahal dari direktori pariwisata.

Muncul banyak kritik. Sejarawan melihat penghapusan itu sebagai upaya penghapusan situs Islam dan sejarah negara oleh pemerintah sayap kanan Hindu pimpinan Yogi Adityanath.

Jagan Prasad Garg, legislator BJP di Agra, mengatakan, kata Agra tidak punya arti. Sekitar lima ribu tahun lalu, tempat itu bernama Agarvan. “Jadi, nama tempat ini harus kembali ke aslinya,” kata Prasad Garg.

Rajiv Saxena, dari kantor Dinas Pariwisata Agra, mengatakan, mengubah nama tempat bersejarah adalah tindakan represif. “Mengubah nama tempat bersejarah akan mengurangi nilai pasar,” katanya.

Agra, kata Saxena, adalah nama yang telah berusia 500 tahun. Menurut dia, alih-alih menghabiskan uang untuk mengganti nama, pemerintah seharusnya serius memperbaiki citra dan menggandakan peluang bisnis pariwisata.

“Agra adalah warisan India. Jika pemerintah membatalkan warisan sejarah, akan tercipta ruang bagi unsur reaksioner dan sektarian di tengah masyarakat,” kata Saxena kepada Arabnews.

Aarti Kumari, seorang profesional bisnis yang berbasis di Agra, mengatakan pemerintah sedang membuang-buang waktu untuk masalah tidak perlu. “Kami bangga pada Agra dan harus seperti itu,” ujarnya.

Bukan kali pertama India mengubah nama kota warisan Islam. Oktober 2018, Allahabad—yang berarti kota Allah—diubah menjadi Prayagraj, nama abad ke-16 kota itu.
Allahabad didirikan Raja Akbar dan terletak di pertemuan Sungai Gagga dan Sungai Yamuna—tujuan populer bagi umat Hindu. Allahabad memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan India, tapi rezim Hindu garis keras BJP membantah peran sejarah itu.

BJP juga mengubah Distrik Faizabad menjadi Ayodhya. Sebeumnya, Ayodhya hanya kota kecil di distrik Faizabad. BJP tidak ingin kota suci Hindu dikaitkan dengan Islam.
Pada 2017 pemerintah Uttar Pradesh juga mengganti nama stasiun kereta api Mughalsarai menjadi Pandit Deen Dayal Upadhyaya, seorang pemimpin sayap kanan Hindu.

Prof Aditya Mukherjee, sejarawan terkemuka Universitas Jawaharlal Nehru, mengatakan, “Pengubahan nama-nama itu menghancurkan gagasan India.”
Menurut dia, ada ratusan tempat dengan nama Islam. Mengganti nama-nama itu adalah mengesampingkan sejarah Muslim, menjelekkan, dan memuliakan zaman kuno yang tidak ada hubungan dengan sejarah.





BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA