Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kurikulum Diganti, akankah Lebih Baik Lagi?

Senin 25 Nov 2019 20:47 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pendidikan/Ilustrasi

Pendidikan/Ilustrasi

Foto: Antara
Implementasi kurikulum sebelumnya dinilai masih menyisakan masalah.

REPUBLIKA.CO.ID, Seolah sudah bisa ditebak bahwa pergantian menteri pergantian pula kurikulum. Presiden memerintahkan secara langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk membongkar kurikulum secara besar-besaran. Wacananya pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran utama SD. 

Mata pelajaran Bahasa Inggris dihapus untuk SMP dan SMA lantaran sudah dituntaskan di SD. SMP ke depan juga tidak boleh lebih dari lima mata pelajaran. Sementara SMA maksimal enam mata pelajaran tanpa penjurusan.

Wacana ini menyisakan pro kontra. Pasalnya implementasi kurikulum sebelumnya saja masih menyisakan masalah. Mengganti kurikulum tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses sampai bertahun tahun agar sampai kelihatan hasilnya.

Berbagai persoalan yang melanda dunia pendidikan saat ini mestinya dicari akar masalahnya sehingga solusinya pun tepat. Jadi bukan hanya semata-mata mengikuti perkembangan zaman, tercipta link and match antara pendidikan dan industri atau menyederhanakan administrasi dan mata pelajaran. 

Kita tentu berharap ilmu yang didapat peserta didik dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun bukan melulu soal dunia industri karena semestinya mereka bukan dicetak sebagai generasi pekerja untuk industri kapitalis.

Demikian pula dengan pendidikan karakter berbasis agama yang diwacanakan. Basis agama yang mana? Sementara kita tahu ada berbagai agama yang ada di Indonesia. Karakter seperti apa juga perlu diperjelas.

Jika hanya konten saja yang diganti, maka bisa jadi tidak akan menimbulkan perubahan yang berarti. Hal ini disebabkan karena berbagai permasalahan seperti masalah moral anak bangsa  akar penyebabnya bukanlah jumlah mata pelajaran atau durasi belajarnya namun karena adanya pemisahan agama dari kehidupan. 

Semestinya agama (Islam) menjadi landasan dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya ritual ibadah individu saja. Selain itu paradigma pendidikan sebagai pencetak generasi jangan disempitkan masalah dunia kerja juga menjadi aspek yang dibisniskan. Ringkasnya, tujuan pendidikan jangan sampai dirusak. Pergantian kurikulum mestinya makin memperkuat tujuan pendidikan.

Dalam Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam. peserta didik memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Karakter dikembangkan dengan basis akidah Islam yang rujukannya Alquran dan sunnah. Kompetensi diajarkan sesuai dengan kebutuhan untuk kemaslahatan umat. Semua juga memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan karena memang menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh negara.

Tak hanya peserta didik saja yang diperhatikan, pengajarnya pun juga diperhatikan. Tugas mereka mulia, mencetak generasi yang tangguh. Kesejahteraan menjadi hak mereka. Demikian pula hal lain terkait pendidikan.

Kita tentu berharap pendidikan mampu mencetak generasi tangguh berkarakter pemimpin seperti Sahabat Rasulullah dan sesudahnya ketika peradaban Islam berjaya. Mereka menjadi insan yang beriman dan bertakwa juga berilmu pengetahuan. 

Tak heran banyak di antara mereka menjadi peletak dasar ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini. Semua itu terwujud ketika agama (Islam) dijadikan ruh dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Pengirim: Novita Fauziyah, S. Pd, Pendidik Generasi, Bogor, Jawa barat

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA