Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Totalitas dalam Berislam, Salahkah?

Senin 25 Nov 2019 17:39 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi anak mengaji, anak laki-laki mengaji

Ilustrasi anak mengaji, anak laki-laki mengaji

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Islam mengajarkan totalitas dalam menjalankan apa yang ditulis Alquran dan hadist

REPUBLIKA.CO.ID, Islam adalah agama sempurna dan paripurna ia mempunyai seperangkat aturan  yang lengkap dari hal kecil dan sepele hingga urusan-urusan yang bersifat global. Dan tentu sebagai seorang muslim yang taat harus bersedia diatur dengan syariat Allah dalam semua segi kehidupannya. Dan menjadikan Alquran sebagai pedoman dan acuannya, sehingga memilah Milah ayat-ayat dan syariat dalam alquran adalah salah satu bentuk kedurhakaan kepada Allah SWT.

Seperti yang dikutip dari laman detik.com Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mewanti-wanti para penceramah dalam memilih ayat. Fachrul tak ingin ketidakwaspadaan penceramah dalam mengangkat satu ayat malah menimbulkan kegaduhan luar biasa. 

"Kadang-kadang ketidakwaspadaan ustaz-ustaz atau penceramah agama apapun dalam mengangkat ayat-ayat justru memunculkan kegaduhan yang luar biasa atau menyebabkan timbulnya tindakan radikalisme," kata Menag Fachrul Razi di Mabes AD Dinas Pembinaan Mental, Jalan Kesatrian VI, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (20/11).

Penulis perlu mengingatkan bahwa Islam bukan agama prasmanan dimana ajarannya dapat dipilih-pilih di ambil sebagian dan dibuang sebagian yang lain sesukanya sesuai hawa nafsu manusia. Sungguh syariat yang Allah bawa pasti membawa kemaslahatan bagi umatnya, tidak mungkin tidak. 

Alquran datang sebagai penolong bagi umatnya menghantarkan dari kegelapan menuju cahaya hidayah, dan ia adalah kitab yang tidak ada kecacatan di dalamnya, yang berisi firman Allah yang agung lalu bagaimana mungkin manusia akan 'menyeleksi' kitab mulia yang Allah turunkan?? Sungguh bentuk kedurhakaan yang nyata.

Dan mirisnya lagi ayat alquran diidentikan dengan kata radikalisme. Seolah olah ingin menunjukan bahwa Alquran dan Islam adalah sumber radikalisme. Tak henti henti nya narasi radikalisme terus di dengungkan dan lagi lagi Islamlah tersangkanya. Sebenarnya apa wujud radikalisme yang sebenarnya? 

Dimana sekarang seolah olah menjadi momok yang menakutkan, justru tak ada fakta riil yang menunjukan bahwa radikalisme mengancam negri ini. Apakah kita tak menyadari apa sebenarnya ancaman nyata bagi negeri ini? Katakanlah kasus korupsi yang menjamur, konflik papua yang tak kunjung mereda, penistaan agama, tingkat kemiskinan, hutang yang menggunung dan seabrek problem lainnya itulah ancaman nyata bagi negeri kita dengan fakta riil yang bisa kita lihat. 

Jadi lebih baik berhenti mengkaitkan Islam dengan radikalisme, apalagi menggiring umat untuk menjadi orang-orang sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, dan memilah-milah syariat Allah. Tak ada ceritanya ayat Allah menyebabkan kegaduhan justru manusialah yang gaduh dan panas mendengar ayat Allah karena tak ingin diatur dengan aturan Allah, ingin hidup dalam kebebasan.

Maka pentingnya kita berislam secara kaffah (totalitas) karena jika hanya mengambil Islam sebagian saja maka indah nya Islam tidak akan terlihat. Ibarat puzzle tak akan membentuk wujud coraknya jika sebagian puzzle tak terpasang. Hal itu pun berlaku dengan Islam hanya dengan berislam secara totalitaslah sesuai Alquran dan hadist semua problem umat akan terselesaikan.

Pengirim: Dian Ambarwati, Muslimah Wonogiri

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA