Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Monday, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 February 2020

Fintech Makin Eksis, Tren Kolaborasi dengan Bank Makin Berkembang

Senin 25 Nov 2019 18:46 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Fintech Makin Eksis, Tren Kolaborasi dengan Bank Makin Berkembang. (FOTO: Unsplash/Rawpixel)

Fintech Makin Eksis, Tren Kolaborasi dengan Bank Makin Berkembang. (FOTO: Unsplash/Rawpixel)

Peran fintech dalam ekonomi negara makin kuat hingga bergandengan dengan bank

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -- Laporan e-Conomy SEA 2019 oleh wartaekonomi.co.id/tag6696/google.html">Google dan Temasek pada akhir 2019 menyebut di Indonesia masih terdapat 92 juta jiwa penduduk dewasa yang belum tersentuh layanan finansial atau perbankan. Jumlah tersebut lebih dari separuh total penduduk dewasa Indonesia yang mencapai 182 juta jiwa.

Dalam kondisi tersebut, kehadiran financial technology (fintech.html">fintech) yang semakin menjamur di Indonesia saat ini nampaknya jadi angin segar dalam mendukung literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, mengingat peranannya dalam memudahkan akses keuangan lewat pemanfaatan teknologi.

Bahkan, eksistensi fintech saat ini mampu turut menggerakkan roda perekonomian negara. Hasil riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada akhir 2019 ini menyebut perusahaan fintech lending diproyeksi berkontribusi Rp100 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2020. Prediksi ini naik hampir empat kali lipat dibanding 2018, yang ada di angka Rp25,97 triliun.

Baca Juga: Bosnya Jadi Stafsus Jokowi, Begini Status Pendanaan Fintech Amartha

Cepatnya penetrasi pasar yang mampu dilakukan fintech lantas membuat para pelaku fintech semakin mantap untuk memperkuat ekspansi bisnisnya guna memberikan dampak lebih luas bagi sektor keuangan di Indonesia.

Hal ini turut mencuri perhatian dari berbagai investor, termasuk para pelaku di sektor keuangan seperti perbankan konvensional yang turut menyalurkan dananya dan berkolaborasi dengan pelaku fintech. Bahkan, para ekonom memprediksi tren kolaborasi antara pelaku fintech dan perbankan konvensional di Indonesia akan semakin berkembang karena dapat saling menguntungkan.

"Kehadiran teknologi akan membawa perubahan bagi lanskap bisnis di sektor keuangan saat ini. Pelaku di sektor keuangan pun semakin dituntut untuk mampu memberikan layanan dan produk keuangan yang inovatif, lebih efisien, cepat, mudah, dan memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat," ungkap Umang Rustagi, Komisioner Kredivo.

Menurutnya, kolaborasi yang sejalan antara fintech dan perbankan dengan berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat akan menciptakan iklim sektor keuangan Indonesia yang kondusif.

"Melalui kolaborasi, baik fintech dan perbankan dapat lebih memperkuat dan memaksimalkan perannya dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat," ungkap Umang.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berbagai tantangan mungkin dihadapi pelaku fintech di Indonesia yang hendak menjajaki kolaborasi dengan perbankan. Selain kredibilitas fintech yang menjadi faktor pertama dalam proses integrasi dengan perbankan, kemampuan manajemen risiko fintech juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi para perbankan yang ingin berkolaborasi.

Fintech yang mampu mengelola manajemen risiko dengan baik tentunya akan meminimalisasi indeks kredit macet, sehingga akan memberikan nilai tambah bagi performa bisnis perbankan.

Namun, tantangan tersebut bukan tidak dapat diatasi. Sejak beberapa tahun belakangan, berbagai fintech di dunia telah berhasil melalui tantangan tersebut dan mampu menjalin kolaborasi dengan perbankan.

Pada 2016, Santander UK Bank telah berinvestasi pada platform peminjaman online, Kabbage, untuk memberikan pinjaman jangka pendek kepada UMKM di Inggris. Melalui kolaborasi tersebut, Santander dapat mengurangi waktu pencairan pinjaman menjadi hitungan jam dari rata-rata 2-12 minggu yang dibutuhkan saat itu.

Selain itu, di 2018, kolaborasi juga dilakukan oleh American Express dan GreenSky (perusahaan teknologi yang fokus pada sistem point-of-sale) untuk meningkatkan sistem pembayaran digital dan kemampuan pembiayaan guna membantu merchant mengembangkan bisnis mereka, sekaligus memberikan konsumen berbagai pilihan pembayaran berbasis digital dengan mudah.

"Semakin banyaknya kolaborasi antara perbankan konvensional dengan fintech dapat menjadi sinyal positif bahwa melalui kolaborasi tersebut, kedua belah pihak dapat saling melebarkan eksistensinya di sektor keuangan, tentunya dengan pendekatan konsumen berbasis digital," tandas Umang.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA