Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Istana: Pertamina Sumbang Besar Defisit Neraca Berjalan

Senin 25 Nov 2019 14:33 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri / Red: Friska Yolanda

Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok (kiri) berjabat tangan dengan Wakil Menteri BUMN Kartiko Wiryoatmojo saat acara penyerahan surat keputusan (SK) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok (kiri) berjabat tangan dengan Wakil Menteri BUMN Kartiko Wiryoatmojo saat acara penyerahan surat keputusan (SK) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Foto: Antara/Trisno Ardi
Ahok diharapkan mampu membenahi internal Pertamina agar dapat tingkatkan produksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah resmi mengangkat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Ahok ditempatkan sebagai Komisaris Utama untuk mengatasi masalah utama di perusahaan migas pelat merah itu.

Baca Juga

Ia menjelaskan, selama ini PT Pertamina dan PLN menyumbang defisit neraca berjalan yang cukup besar bagi negara.

“Nah kenapa diputuskan Pak Ahok jadi komisaris utama di Pertamina, karena memang kita menyadari bahwa persoalan bangsa ini salah satunya mengenai current account deficit. Dan itu yang memberikan kontribusi cukup besar adalah Pertamina dan PLN,” ujar Pramono di kantornya, Jakarta, Senin (25/11).

Sebagai Komisaris Utama, Ahok pun diharapkan mampu membenahi internal perusahaan migas nasional itu. Sehingga, produksi minyak pun dapat ditingkatkan dan impor minyak dapat ditekan.

“Maka dengan program B20, yang sekarang B30, kalau di internalnya Pertamina tidak dilakukan pembenahan, impor minyaknya sangat besar. Inilah yang menyebabkan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan kita,” kata dia.

Pramono mengatakan, Ahok akan bertugas mengawasi pembenahan di tubuh Pertamina menjadi lebih baik. Sehingga defisit neraca berjalan pun dapat berkurang.

“Untuk memberikan pengawasan jangan sampai Pertamina tidak mau berubah. Masih berkeinginan masih impor minyak padahal kita sudah punya subtitusinya diantaranya adalah CPO baik B20, B30 yang akan dikembangkan menajdi B50,” jelas Pramono.

Ia pun menjelaskan, proses seleksi Ahok dilakukan melalui tim penilai akhir (TPA) yang diketuai oleh Presiden dan melibatkan sejumlah menteri terkait.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyampaikan Ahok telah resmi diangkat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina. Selain Ahok, sejumlah jajaran direksi Pertamina pun juga diganti.

Posisi direktur keuangan yang sebelumnya dijabat oleh Pahala Mansyuri, kini dijabat oleh Emma Sri Martini. Emma diketahui sebelumnya menempati posisi Dirut Telkomsel. Sedangkan Pahala kemudian ditugaskan sebagai Dirut BTN.

Selain itu, ada pula nama baru di tubuh Komisaris Pertamina yakni Condro Kirono. Mantan Kakorlantas Mabes Polri itu menggantikan posisi Gatot Trihargo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA