Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Wapres dan 2 Pesan Sunan Gunung Jati Ajaran Rasulullah SAW

Senin 25 Nov 2019 13:56 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Nashih Nashrullah

Wakil Presiden Ma

Wakil Presiden Ma

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Pesan Sunan Gunung Jati untuk merawat masjid dan fakir miskin.

REPUBLIKA.CO.ID, Jumat 22 November 2019 pagi, Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon nampak tidak seperti biasa. Tak nampak peziarah umum, saat rombongan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin memasuki area makam. 

Baca Juga

Kiai Ma'ruf didampingi Ibu Hj Wury Ma'ruf Amin, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beserta istri, dan Wali Kota Cirebon, Nasruddin Azis, berziarah ke Makam Sunan, salah satu Wali Songo tersebut, sebelum membuka Festival Tajug 2019 di Alun-alun Kasepuhan Cirebon, pada Jumat siang. 

Untuk menuju Makam Sunan, Kiai Ma'ruf dan rombongan harus melalui beberapa pintu, dan area pekuburan kerabat Sunan maupun Kasepuhan Cirebon. Setelah menaiki puluhan anak tangga, tibalah Kiai Ma'ruf di tempat Makam Sunan yang terletak paling atas tersebut. 

Kiai Ma'ruf langsung memimpin doa bersama untuk mengenang jasa Sunan dan juga untuk keselamatan bangsa dan negara. Setelahnya, Kiai Ma'ruf langsung menuju Keraton Kasepuhan Cirebon untuk membuka Festival Tajug, yang merupakan rangkaian Hari Santri.  

Namun selain itu, Festival Tajug berpijak pada Wasiat Sunan Gunung Jati kepada para generasi penerusnya untuk tetap menjaga masjid (tajug).  

Karena itu, saat membuka untuk kedua kalinya acara tersebut, Kiai Ma'ruf kembali mengingatkan wasiat yang disampaikan Sunan Gunung Jati, "Ingsun titip tajug lan fakir miskin', yang berarti "saya titip masjid dan fakir miskin."  

Kiai Ma'ruf mengatakan, wasiat tersebut begitu sarat makna. Sebab, wasiat Sunan tersebut seakan sudah mempredikasi jika ummat Islam generasi setelahnya akan meninggalkan masjid dan juga fakir miskin.  Karena itu, Kiai Ma'ruf menilai, wasiat Sunan yang memiliki nama asli Syarif Hidayatullah itu sangat relevan jika digunakan dengan konteks perkembangan saat ini.

Menurut Kiai Ma'ruf, masjid memang tidak ditinggalkan, tapi yang terjadi saat ini ialah, masjid tidak sedikit disalahgunakan fungsinya dari tempat menyebarkan dakwah kebaikan dan pembangunan. 

Saat ini, justru ada pihak yang menggunakan masjid untuk menyampaikan ujaran kebencian dan narasi permusuhan. 

"Pantas karena itu Sunan Gunung Jati, menyampaikan pesan soal titip tajug (masjid), tetapi bisa juga mulai sekarang, supaya menjaga tajug dari cara cara pengajaran, pengajian, khutbah, dakwah yang tidak sesuai dengan cara cara yang dilakukan oleh para ulama dahulu," ujar Ma'ruf saat memberi sambutan di Festival Tajug 2019 di Cirebon, Jumat (22/11).

photo
Wakil Presiden Ma'ruf Amin berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di sela kunjungan kerjanya di Cirebon, Jumat (22/11).

Karena itu, Kiai Ma'ruf memaknai Festival Tajug 2019 ini sebagai sarana untuk mengingat kembali wasiat Sunan Gunung Jati soal pentingnya menjaga masjid dan juga fakir miskin. 

Wasiat Sunan Gunung Jati ini juga berkiblat dari cara Rasulullah SAW yang sangat memperhatikan masjid dalam berdakwah.

"Rasulullah sendiri datang ke Madinah yang dibangun pertama juga mesjid, Masjid Kuba maupun Madinah. Karena itu fungsi masjid di dalam pembangunan masyarakat umat berperan sangat penting," ujar Kiai Ma'ruf.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu pun mengajak semua pihak untuk saling mengingatkan jika masjid mulai disalahgunakan fungsinya. Masjid harus menjadi tempat membangun keutuhan, kemaslahatan, persaudaraan dan pembangunan Islam.

"Jangan sampai masjid dijadikan tempat menyampaikan ujian kebencian, jangan sampai ada ungkapan ungkapan yang menggunakan narasi-narasi permusuhan, kebencian," ujar Kiai Ma'ruf. Wasiat lainnya Sunan Gunung Jati yang tak kalah penting adalah soal fakir miskin.

Salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara itu begitu menaruh perhatiannya kepada fakir miskin.  Kiai Ma'ruf pun menilai pesan itu lagi-lagi relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Kiai Ma'ruf tidak memungkiri, jumlah masyarakat tidak mampu di Indonesia masih di angka sembilan persen. 

Tentu saja, Pemerintah melalui berbagai upaya berusaha untuk terus mengentaskan kemiskinan masih harus ditingkatkan lagi. "Saya kira ini pesannya akan terus hantui kita untuk ambil langkah-langkah sebagai pejabat, apalagi sebagai presiden, wapres, sebagai gubernur, wali kota bupati ini harus jadi pesan yang terus digaungkan," ujar Kiai Ma'ruf. 

Namun  demikian, meski mengurus fakir miskin merupakan tanggung jawab negara, namun Kiai Ma'ruf tetap berharapkan keikutsertaan banyak pihak mulai dari swasta, hingga masyarakat yang lebih mampu.

"Jadi ada sinergi, ini pesan luar biasa menurut saya memang sudah menjadi tanggung jawab negara, tanggungjawab umat, tetapi bagaimana meningkatkan mempercepat proses penanggulangannya itu yang harus kita gali," ujar Ma'ruf.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA