Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Demonstran Lebanon Bentrok dengan Hizbullah dan Amal

Senin 25 Nov 2019 12:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Para pendukung Hizbullah berlari usai polisi menembakkan gas air mata di dekat kantor pemerintahan di Beirut, Lebanon, Selasa (29/10).

Para pendukung Hizbullah berlari usai polisi menembakkan gas air mata di dekat kantor pemerintahan di Beirut, Lebanon, Selasa (29/10).

Foto: AP Photo/Hussein Malla
Bentrokan pecah antara demonstran anti-pemerintah dan pendukung Syiah Hizbullah

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Bentrokan pecah antara demonstran anti-pemerintah dan pendukung kelompok-kelompok Syiah Hizbullah dan Amal di ibukota Beirut, Senin (25/11) pagi. Ketegangan meningkat ketika para demonstran memblokir sebuah jembatan utama.

Hizbullah dan Amal merupakan perwakilan koalisi pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Saad al-Hariri yang mundur pada 29 Oktober setelah protes dimulai. Hizbullah yang didukung oleh Iran pun telah menentang pengunduran diri Hariri.

Baca Juga

Tentara dan polisi anti huru hara membentuk penghalang yang memisahkan para pengunjuk rasa dari pendukung kelompok-kelompok Syiah di jalan utama yang dikenal sebagai Jembatan Cincin. Lemparan batu terlihat oleh kedua belah pihak dalam tayangan di televisi. Pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Reuters melaporkan pendukung Hizbullah dan Amal mengibarkan bendera kelompok. Sebelumnya, mereka meneriakkan "Syiah, Syiah" dan slogan-slogan yang mendukung pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah. Di sisi lain, para demonstran meneriakkan "Revolusi, revolusi".

Penyiar Lebanon al-Jadeed melaporkan pertempuran tampaknya pecah ketika Hizbullah dan pendukung Amal menyalahkan demonstran lain karena membuat komentar ofensif tentang Nasrallah. Namun, informasi itu belum dapat diketahui kebenarannya. Pertahanan sipil Lebanon mengatakan di akun Twitter, mereka memberikan pertolongan pertama kepada lima orang yang menderita berbagai cedera.

Lebanon telah menghadapi lima pekan protes anti-pemerintah, dipicu oleh korupsi di antara politisi sektarian yang telah memerintah Libanon selama beberapa dekade. Demonstran ingin melihat seluruh penguasa hilang dari kekuasaan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA