Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Mengenal Sistem Numerik Romawi dan India

Senin 25 Nov 2019 10:24 WIB

Red: Agung Sasongko

Peninggalan Romawi di Yunani.

Peninggalan Romawi di Yunani.

Foto: wikipedia
Peradaban dunia mengenal sistem numerik Romawi dan India.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Angka numerik yang diperkenalkan saat ini tak lepas dari jasa peradaban Islam. Peradaban Islam mengadopsi sistem numerik India yang terus dipakai saat ini.

Sebelumnya, sudah ada sistem numerik yang dipakai. Bangsa Eropa melalui peradaban Romawi mengenal sistem numerik unik. Misalnya, Romawi Kuno yang mempunyai angka I untuk melam bangkan 'satu'; V untuk 'lima'; X, '10'; L, '50'; C, '100'; D, '500'; dan M, '1.000.'

Sistem penomoran demikian masih dapat dijumpai sampai sekarang. Bahasa Indonesia, umpamanya, mengadopsi bilangan Romawi untuk menjelaskan perihal urutan.

Namun, sistem tersebut tidak praktis dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, hitunglah total dari CCLXVI+DCL+ MLXXX+MDCCCVII. Umpamanya Anda seorang pedagang di pasar Roma tempo dulu, pelanggan pasti meninggalkan Anda karena terlalu lama menunggu.

Terjemahkan simbol-simbol itu ke dalam angka desimal sehingga menjadi 266+650+1080+1807. Anda hanya perlu waktu beberapa menit untuk sampai pada jawaban yang benar: 3.803.

Di belahan dunia Timur, peradaban India mengenal sistem numerik yang nantinya banyak digunakan hingga saat ini.  Georges Ifrah dalam bukunya, The Universal History of Numbers: From Prehistory to the Invention of the Computer (2000), mengatakan, peradaban India merupakan tempat lahirnya angka desimal yang dipakai luas hingga saat ini: 1-2-3-4-5-6-7-8-9-0.

Menurut Ifrah, tak seperti di Barat, kaum terpelajar di India Kuno cenderung konsen pada persoalan sehari-hari. Dalam urusan kalkulasi pun mereka memilih jalan yang lebih praktis.

Perlu simbol untuk menjelaskan 'empat' atau 'tujuh'? Orang Romawi Kuno harus menempatkan sebuah angka 'satu' di sebelah kiri angka 'lima' dan dua buah angka 'satu' di sebelah kanan angka 'lima'.

Maka muncul angka IV dan VII yang masing-masing merujuk pada 'empat' (V-I) dan 'tujuh' (V+II). Bagi masyarakat India Kuno, operasi tambah/kurang demikian tidak perlu dilakukan. Sebab, simbol 4 dan 7 sudah cukup mewakili makna 'empat' dan 'tujuh.'

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA