Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Cina, Islam, dan Asia Tenggara

Kamis 28 Nov 2019 01:50 WIB

Red: Joko Sadewo

Nashih Nasrullah

Nashih Nasrullah

Hubungan Cina dengan negara timur tengah sudah berlangsung lama.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah*

Belakangan, muncul gairah dari para pemikir Muslim untuk menguak kembali korelasi yang kuat antara Cina dan dunia Islam, terutama negara-negara Timur Tengah dari romantika sejarah jalur sutra hingga Revolusi Arab meletus.

Melalui bukunya yang berjudul China and The Middle East from Silk Road to Arab Spring, Muhammad Alimat, seorang dekan di Universitas Khalifa Abu Dhabi, mengungkapkan hubungan yang sangat kompleks antara Cina dan negara-negara di Timur Tengah di era modern.

Korelasi ini tentu berlangsung cukup lama sejak abad ke-6 Masehi. Bahkan sebelum kedatangan Islam, pada tahun 1000 sebelum Masehi masyarakat Timur Tengah pernah menyusuri jalur sutra untuk berniaga dengan bangsa Cina.

Hubungan tersebut berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya soal perdagangan tetapi juga kebudayaan, militer, hingga urusan politik. Cina memegang peran vital dalam Revolusi Arab. Bersama Rusia, Cina pernah menolak resolusi PBB untuk menumbangkan rezim Basyar al-Asad di Suriah.

Penolakan ini mendapat reaksi keras dari penduduk Arab yang mengingingkan sebaliknya. Untuk pertama kalinya saat itu, berbeda dengan AS dan Israel yang kerap menjadi bulan-bulanan, bendera Cina dibakar sebagai protes atas kebijakan tersebut.

Tak sulit melacak persentuhan dunia Islam dengan jalur sutra yang merupakan akses utama menuju negara-negara Asia dan sekitarnya ketika itu. Banyak catatan perjalanan yang ditulis baik oleh para cendekiawan atau petualang-petualang Muslim.

Ibnu Jabir misalnya, ia keluar dari Spanyol pada 1183 menuju Makkah untuk pergi berhaji. Perjalanan itu ia lakukan dengan niat terhapuskan dari dosa akibat seceguk alkohol yang ia minum. Ia melintasi berbagai wilayah berikut aneka budaya dan etnis.

Catatan perjalanannya itu ia tuangkan ke dalam sebuah karya yang diberi tajuk “Tadzkirat al-Akhbar ‘an Ittifaq al-Asfar”. Kitab yang naskah manuskripnya masih tersimpan baik di Perpustakan Leiden, Belanda dengan tulisan tangan tertanda di Makkah sekira 1470 M ini, menjadi rujukan penting bagi para cendekiawan Muslim, seperti al-Muqrizi dan Ibnu Bathuthah. Bahkan dianggap sebagai referensi utama dalam kajian di Barat dan dialihbahasakan ke berbagai bahasa.

Meski bila ditelusuri, pada periode awal Islam, ekpedisi yang melewati jalur sutra tersebut telah dilakukan ke kawasan timur jauh, atau yang kerap mereka sebut dengan syarq al-aqsha. Destinasi utama mereka ketika itu adalah Cina. Tak hanya Cina bahkan.

Perjalanan itu mencakup pula Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  Malaka-lah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian tersebar ke seluruh kawasan regional.

Pada masa puncak perdagangan di era Dinasti Tang dan Song pada abad ke-7 hingga abad ke-13, cukup banyak bermunculan komunitas dan permukiman Arab di beberapa daerah perdagangan Cina. Di antaranya, yakni di Chang-An (Xi-An), Yangzhou, Ningpo, dan kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Quanzhou di Cina dan Champa di semenanjung Indocina.

Ekspedisi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia, memang massif dilakukan sejak abad ke-2 Hijriyah di masa para khalifah pengganti Rasulullah SAW. Syekh ar-Ribwah dalam kitab Nukhbat ad-Dahr mengatakan kuat dugaan, sebanyak 32 utusan yang dikirim oleh Ustman bin Affan untuk ekpedisi ke Cina pada abad ke-3 Hijriyah, pernah singgah dan mengenalkan Islam ke Indonesia. Wilayah Nusantara merupakan jalur transportasi utama yang paling mudah menuju Cina.

Inilah mengapa, Sayyid Alawi bin Thahir al-haddad, dalam bukunya Tarikh Intisyar al-Islam fi as-Syarq al-Aqsha, menyebutkan keberadaan saudagar Muslim Sulaiman a-Sairafi, yang pernah berkunjung ke Sulawesi pada abad ke-dua Hijriyah. Rempah-rempah menjadi komoditas yang paling dicari oleh para pedagang Arab Muslim pada masa itu.

Hanya saja, bedanya pada awal misi ekspedisi tersebut belum muncul kesadaran untuk mendokumentasikan kisah perjalanan mereka. Bisa jadi ada, tetapi tak sampai pada tangan kita sekarang. Entah akibat dimakan usia, ikut terbakar saat keruntuhan Baghdad, atau memang benar-benar tak ada dokumentasi sama sekali.

Berbeda dengan gairah penjelajahan pada abad-abad berikutnya. Mereka bahkan menerima permintaan langsung dari berbagai pihak untuk membukukan laporan petualangan mereka. Seperti pengalaman al-Idrisi. Karyanya yang berjudul “Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq” sengaja ditulis merupakan permintaan langsung dari penguasa Spanyol saat itu, yakni Roger II. Meski non-Muslim, tetapi pemimpin tersebut cinta terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Begitu juga dengan latarbelakang penulisan “Tuhfah an-Nazhar fi Gharaib al-Amshar wa ‘Ajaib al-Asfar”. Penulisnya yang tak lain adalah Ibnu Bathuthah, semula tak berniat membukukan kisah perjalanannya selama berpetualang.

Namun, setelah mendapat saran dan dorongan dari sejumlah kalangan, terutama Sultan Maroko, Abu Affan Faris Al-Mutawwakil, generasi ke-11 Kesultanan Bani Marinid (Maryan), akhirnya pada 1354 M, dia berkenan berbagi cerita melalui dokumentasi sebuah buku dan berhasil diselesaikan pada 1355 M.

Kitab ini pun menjadi referensi penting dalam rekontruksi islamisasi Nusantara. Dalam karyanya tersebut, Ibnu Bathuthah mengisahkan pengalamannya selama berada di Sumatra yang saat itu dikuasai Kerajaan Samudera Pasai. 

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA