Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Antibodi dari Ibu tidak Melindungi Bayi dari Campak

Ahad 24 Nov 2019 10:55 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Penyakit campak. Banyak orang mengira antibodi dari ibu bisa bertahan setahun sejak kelahiran bayinnya.

Penyakit campak. Banyak orang mengira antibodi dari ibu bisa bertahan setahun sejak kelahiran bayinnya.

Foto: ABC
Orang mengira antibodi dari ibu bisa lindungi bayi dari campak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru mengesampingkan anggapan bahwa antibodi yang ditularkan dari ibu ke janin melindungi bayi dari campak selama setahun. Faktanya, kekebalan bayi menyusut jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya, menurut penelitian dalam jurnal Pediatrics, dilansir laman Health 24, Ahad (24/11).

Baca Juga

Temuan ini mendorong pentingnya imunisasi di seluruh lapisan masyarakat. Menurut studi tersebut, campak adalah penyakit serius, terutama di kalangan bayi, karena risiko infeksi yang lebih tinggi, potensi munculnya komplikasi, dan risiko rawat inap.

"Bayi juga paling rentan terhadap kematian akibat cmapak," kata penulis studi senior Shelly Bolotin, seorang ilmuwan di Public Health Ontario, Kanada.

Untuk melakukan studi tersebut, para peneliti menguji sampel darah dari 196 bayi di bawah usia 12 bulan untuk menentukan keberadaan antibodi campak. Hasilnya tidak terduga.

Dalam bulan pertama kehidupan bayi 20 persen tidak memiliki antibodi yang cukup untuk melindungi terhadap virus yang sangat menular. Pada 3 bulan, 92 persen memiliki tingkat antibodi di bawah ambang pelindung. 

Pada enam bulan, tidak ada yang memiliki antibodi pada tingkat yang dapat melindungi terhadap campak. Biasanya, bayi dianggap kebal terhadap campak selama setahun karena antibodi ibu mereka. Para penulis mengaitkan hilangnya kekebalan yang lebih cepat dari yang diperkirakan dengan jenis perlindungan yang diterima di dalam rahim dari ibu mereka.

Campak telah dieliminasi sejak tahun 1998 di Kanada, tempat penelitian dilakukan.  Dengan demikian, ibu dalam penelitian ini mungkin mendapatkan perlindungan dari suntikan dan bukan melalui infeksi sebelumnya, yang dapat menghasilkan lebih banyak antibodi.  Imunitas ibu juga tidak akan ditingkatkan dari campak yang beredar di masyarakat.

"Studi ini benar-benar menggarisbawahi perlunya melindungi bayi di tahun pertama kehidupan," kata Bolotin.

Campak adalah penyakit virus serius yang gejala awalnya termasuk ruam dan demam. Penyakit ini sangat menular, terutama di kalangan anak-anak yang masih sangat kecil. 

Meskipun jarang, campak dapat menyebabkan komplikasi, termasuk pneumonia, gangguan pendengaran, dan kematian. Hal itu adalah yang paling umum di antara populasi yang rentan, seperti bayi, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA