Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Hubungan Yordania-Israel Berada pada Titik Terendah

Sabtu 23 Nov 2019 22:10 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Bendera Yordania (ilustrasi)

Bendera Yordania (ilustrasi)

Yordania tidak sepenuhnya menuai keuntungan perdamaian yang diharapkan

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA -- Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengatakan hubungan antara negaranya dan Israel sedang berada pada titik terendah sepanjang masa. Yordania, kata dia, tidak sepenuhnya menuai keuntungan perdamaian yang diharapkan akan menyertai ikatan diplomatik pada 25 tahun lalu.

"Kami belum dapat mencapai kerja sama bilateral pada berbagai isu," kata Safadi saat menghadiri konferensi keamanan di Bahrain, Sabtu (23/11), dikutip laman Times of Israel. Pernyataannya mengkhususkan proyek pipa Laut Merah-Laut Mati yang tertunda dan langkah-langkah Israel membatasi ekspor Yordania ke Tepi Barat.

"Jika Anda datang dan memberi tahu orang-orang bahwa ada dividen perdamaian, mereka bertanya pada Anda, 'di mana itu?'," ujar Safadi.

Dia pun mengisyaratkan bahwa Israel tidak menghormati pengaturan mengenai situs-situus Kristen dan Islam di Yerusalem. Di bawah perjanjian damai, Israel mengakui Raja Yordania Abdullah sebagai penjaga situs-situs tersebut. "Hari demi hari kami terlibat dengan upaya untuk mencoba dan mencegah pelanggaran status quo dari situs-situs itu," ucapnya.

Safadi kemudian mengkritik berlanjutnya kendali militer Israel atas Tepi Barat dan langkah-langkah sepihak, termasuk pembangunan permukiman, yang mengakibatkan negara Palestina sulit terbentuk. "Untuk mencapai perdamaian, pendudukan harus berakhir," ujar Safadi.

Dia menyoroti kurangnya negosiasi damai antara Israel dan Palestina dalam beberapa tahun terakhir. "Dalam dua-tiga tahun terkahir, proses perdamaian sejujurnya telah mati," katanya.

Komentar Safadi menggemakan pernyataan yang sebelumnya diutarakan Raja Abdullah. Dia telah mengatakan bahwa hubungan Yordania dengan Israel berada pada titik terburuk sejak penandatanganan perjanjian damai pada 1994.

"Masalah yang kita miliki dengan Israel adalah bilateral. Sekarang saya berharap apa pun yang terjadi di Israel selama dua atau tiga bulan ke depan, kita dapat kembali berbicara satu sama lain tentang masalah sederhana yang belum bisa kita bicarakan selama dua tahun terakhir," kata Raja Abdullah.

Dia tak menyinggung masalah apa yang belum dapat dibicarakan selama dua tahun terkahir tersebut. Raja Abdullah pun mengatakan integrasi penuh Israel ke Timur Tengah membutuhkan solusi untuk konflik Israel-Palestina.

"Masa depan Israel adalah menjadi bagian dari Timur Tengah, tapi masalahnya adalah bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi seratus persen kecuali kita menyelesaikan masalah Palestina," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA