Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Mohamad Tabrani: Pelopor Bahasa Indonesia

Sabtu 23 Nov 2019 09:09 WIB

Red: Didi Purwadi

Ahmad Bahtiar, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia UNS

Ahmad Bahtiar, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia UNS

Foto: dokpri
Tabrani mengusulkan penguasaan bahasa Indonesia jadi syarat pengangkatan pejabat.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Ahmad Bahtiar*

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia adalah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Peristiwa itu mempersatukan para pemuda dalam tiga sumpah yaitu, berbangsa yang satu, bertanah air yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sumpah itu tidak hanya memberi “tenaga” kepada bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, tetapi juga dianggap sebagai kelahiran bahasa Indonesia, bahasa yang mempersatukan kebhinekaan Indonesia. Sayangnya, fakta lain terkait kelahiran bahasa Indonesia termasuk jasa-jasa para pelopor bahasa Indonesia seakan terlupakan, bahkan jarang disebut-sebut.

Kelahiran bahasa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Kebangkitan Nasional. Para perintis kemerdekaan tidak hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dari penjajah, melainkan juga bagaimana mengisi kemerdekaan dan menjadikan bangsa yang merdeka ini mempunyai kebudayaan yang bisa dibanggakan, yang diantaranya adalah bahasa Indonesia.

Perjalanan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan tidak terlepas dari sosok Mohmamad Tabrani. Selama ini, ia hanya dikenal sebagai tokoh jurnalistik Indonesia terkemuka dan tokoh pergerakan nasional. Sejarah lebih mencatat Muhamad Yamin, Sanusi Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana bila menautkan dengan bahasa Indonesia.

Siapa M. Tabrani?
Mohamab Tabrani Soerjowitjirto atau biasa dikenal Mohamad Tabrani lahir di Pamekasan, Madura 10 Oktober 1904. Ia tokoh Jong Java tetapi lebih dikenal sebagai wartawan, meski sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Bandung. OSVIA mendidikanya menjadi amtenar, pegawai pemerintah  tetapi ia memilih menjadi wartawan. 

Kiprahnya dimulai menjadi wartawan Hindia Baroe (1925-1926) di bawah pemimpin redaksi Agus Salim. Ketika Agus Salim keluar awal 1926, karena mendapat tugas partai, Tabrani diangkat sebagai pemimpin redaksi. Jabatan itu ditinggalkan karena ia belajar jurnalistik ke Eropa di kampus Berlin Universitat dan Koln Universitat jurusan Jurnalistik dan Ilmu Persuratkabaran.

Setelah kembali dari Eropa, ia memimpin Revee Politiek, organ partai yang didirikannya, Parta Rakyat Indonesia dari tahun 1932-1936. Lalu, menangani koran milik Haji Djoenadi, Pemandangan (1936-1942). Sesudahnya, dia memimpin redaksi Suluh Indonesia, organ Partai Nasional Indonesia.

Tabrani pernah menjadi Ketua Persatuan Djoernalis Indonesia (Perdi). Ia hadir ketika Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk tahun 1946, sebagai Pegawai Menteri  Penerangan.

Pada zaman Jepang, ia memimpin koran Tjahaya di Bandung. Pada zaman Jepang ini pula pernah dijebloskan ke penjaran Sukamiskin. Ia disiksa hingga kaki cacat sampai pincang. Keluar dari penjara, Tabrani memimpin Indonesia Merdeka yang diterbitkan Jawa Jawa Hokokai.

Saat Indonesia Merdeka, ia sempat mengelola koran Suluh Indonesia, milik Partai Nasional Indonesia. Dalam perjalanan hidupnya, Tabrani ikut mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta. Murid-muridnya antara lain Anwar Tjokrominoto dan Syamsudin Sutan Makmur. Tabrani meninggal di Jakarta 12 Januari 1984, pada usia 80 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kelahiran bahasa Indonesia
Peran penting Tabrani terkait kelahiran bahasa Indonesia adalah saat diadakan Kongres Pemuda I yang dilaksanakan pada 30 April - 2 Mei 1926 di Loge Ster in Het Oosten (Loji Bintang Timur), Batavia. Sekarang di sekitar Jalan Budi Utomo, Jakarta.

Sebagai pemakarsa, Tabrani yang mewakili Jong Java ditunjuk sebagai ketua panitia dengan Djamaludin Adinegoro, wakil Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris Panita. Sebagai ketua panitia, Tabrani membuka kongres tersebut. Sambutan menekankan pentingnya bahasa persatuan untuk mengutarakan kebudayaan masa depan Indonesia. Salah satu bahasa yang memiliki modal menjadi bahasa persatuan adalah bahasa Melayu.

Dalam kongres itu, ia ikut menjadi perumus putusan kongres bersama Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond, dan Sanusi Pane wakil dari Jong Bataks. Muhammad Yamin dan Sanusi pane tidak hanya tokoh pergerakan tetapi juga menguasai bahasa, sastra, sejarah dan bidang lainnya.

Sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 yang kita kenal selama ini, konsepnya dirumuskan pada Kongres Pemuda I. Saat-saat terakhir kongres I akan berakhir, para perumus masih mempermasalahkan apakah akan menyebut bahasa persatuan bangsa Indonesia itu Bahasa Melayu, karena bahasa itu yang dimaksud sesuai yang diusulkan Muhamad Yamin dengan dukungan Djamaludin Adinegoro. 

Untuk itu, konsep Sumpah Pemuda yang diusulkan Muhamamad Yamin adalah:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia;
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia;
3. Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan bahasa Melayu.

Sedangkan Tabrani dengan dukungan dari Sanusi Pane, menyetujui butir 1 dan 2 tetapi menolak butir no. 3. Ia berpendapat, kalau tumpah darah dan bangsa disebut Indonesia, maka bahasa persatuannya harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu. Usul itu disetujui bersama pada 2 Mei 1926, walaupun diterima oleh Muhamad Yamin dengan berat hati.

Usulan itu kemudian menghasilkan keputusan Kongres I dan dikukukan dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 berupa Sumpah Pemuda. Jelas bagi kita bahwa bahasa persatuan itu adalah Bahasa Melayu yang kemudian diberi nama baru bahasa Indonesia.

Meskipun Tabrani tidak mengklaim bahwa arsitek bahasa persatuan adalah dirinya, berdasarkan itu, Harimurti Kridalaksana, linguis atau ahli bahasa dari Universitas Indonesia dalam bukunya Masa-masa Awal Bahasa Indonesia (2010) berpendapat 2 Mei 1926 adalah hari kelahiran bahasa Indonesia, yakni ketika Tabrani menyatakan bahwa  bahasa bangsa Indonesia haruslah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.
   
Pemikiran Tabrani
Selain jasa-jasanya dalam Kongres Pemuda I yang melahirkan bahasa Indonesia, banyak pemikiran Tabrani untuk mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pada 10 Januari 1926, M Tabrani memuat tulisannya pada rubrik “Kepentingan”, yang merupakan tajuk rencana Hindia Baroe. Tulisan yang  berjudul  “Kasihan” memunculkan gagasan awal untuk menggunakan nama Bahasa Indonesia.

Ketika itu, Tabrani menyebutkan Bahasa Indonesia sebagai sebagai bahasa pergaulan. Tabrani memunculkan konsep kebangsaan yang merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia (orang-orang Indie) yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan. Ketika itu, sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda dari berbagai daerah, orang-orang Indie juga masih mengutamakan kepentingan suku ataupun daerahnya masing-masing.

Tulisan lainnya, dimuat pada 11 Februari 1926 dalam rubrik “Kepentingan” berjudul “Bahasa Indonesia”. Tulisan tersebut menyatakan bahwa bahasa adalah satu-satu jalan untuk menguatkan persatuan Indonesia dan karena itu haruslah berihktiar untuk memilki satu bahasa yang lambat laun akan diberi nama Indonesia.

Tulisan itu juga menjelaskan pentingnya bahasa dalam pergerakan. Dengan adanya bahasa Indonesia, pergerakan akan menjadi keras dan cepat menuju kemerdekaan. Pada akhir tulisan, ia mencatumkan namanya sebagai penulis, Tabrani DI, singkatan dari Djoernalis Indonesia.

Dalam Kongres bahasa Indonesia I yang diadakan di gedung Societeit Habiprojo di Kota Solo, 25-28 Juni 1938 yang merupakan tindak lanjut dari Sumpah Pemuda, Tabrani termasuk nara sumber dalam acara itu. Pada 27 Juni, ia menyampaikan makalah dengan judul “Meentjepatkan penjebaan bahasa Indonesia”.

Pemikiran lainnya dapat dilihat dalam De Indische Courant edisi 6 Juli 1938, Tabrani mengusulkan agar penguasaan bahasa Indonesia dijadikan syarat pengangkatan pejabat dan pegawai. Usul lainnya ialah agar surat-menyurat lembaga pemerintah menggunakan bahasa Indonesia.

Selain itu, melalui Surat Kabar Pemandangan, ia mendukung petisi Sutardjo yang menganjurkan agar bahasa Indonesia digunakan di lembaga perwakilan dari Gemeenteraad (Dewan Kota) hingga Volksraad (Dewan Rakyat) dan mendukung gagasan konsentrasi nasional.
   
Untuk mengenang jasa-jasa Tabrani, Kementerian sosial Republik Indonesia menganugrahkan Tanda Jasa Perintis Kemerdekaan. Sebagai pelopor dalam bahasa Indonesia, penghargaan itu perlu ditambahkan lagi.

Untuk itu, Kemendikbud melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan atau Badan Bahasa, mengusulkan kepada negara berupa gelar pahlawan nasional kepada Tabrani karena gagasan besarnya melahirkan bahasa Indonesia. Sebagai langkah awal, pada awal April 2019, Badan Bahasa mengubah nama Gedung Samudera menjadi Gedung Mohamad Tabrani dan Jalan Sumpah Pemuda Jakarta dengan Jalan M. Tabrani.

* Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia UNS

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA