Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Pesan Umar Agar Persahabatan Muslim Tetap Harmonis

Jumat 22 Nov 2019 19:24 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Sahabat Nabi

Ilustrasi Sahabat Nabi

Foto: Mgrol120
Menyapa, memberi tempat dan memanggil nama yang baik jaga persahabatan tetap harmonis

Sahabat dekat, teman akrab, kawan bermain merupakan orang yang selalu bergaul, bermain, saling “curhat”  bahkan “ngopi-ngopi” bersama dengan kita. Mereka yang mengetahui segala keluh dan tawa kita. Ternyata mereka juga manusia yang mempunyai perasaan yang sama seperti yang kita rasakan, ia tak mau disakiti, seperti diri kita tak mau disakiti, ia ingin dimuliakan seperti halnya diri kita ingin dimuliakan orang, maka jangan sampai  menyinggung perasaan maupun hatinya karena akan merugikan diri kita sendiri.

Abu al-Barakat al-Ghazzi dalam kitabnya yang berjudul Adab al-Usyrah wa Dzikru as-Shuhbat mengutip perkataan Sahabat Umar bin Khattab:  Ada tiga hal yang menambah erat hubungan persahabatan. 

Memberi salam ketika bertemu dengannya

Ajaran Islam mengajarkan kerukunan serta penebar perdamaian bukan untuk menakut-nakuti apalagi mengajarkan permusuhan kepada sesama manusia. Buktinya Islam menekankan kesalehan sosial kepada orang lain terutama yang membutuhkan tak pandang bulu walau kepada mereka yang berbeda keyakinan, beda pendapat atau bahkan beda pilihan.

Nabi Muhammad Saw sebagai seorang rasul yang diutus kepada seluruh alam tidak hanya kepada manusia yang berada di Arab semata namun kepada semua manusia baik kulit putih maupun hitam, tak terbatas kepada satu suku semata namun kepada semuanya bahkan kepada bangsa jin sekaligus.

Salah satu bukti prilaku terpuji Nabi adalah tak malu memulai memberikan salam kepada siapapun walau kepada anak-anak. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi,

عن أنس رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال: كان رسول لله صلى الله عليه وسلم يفعله. متفق عليه

Diriwayatkan dari sahabat Anas Radhiyallahu Anhu, suatu ketika ia melewati sekumpulan anak-anak kemudian beliau memberikan salam kepada mereka. Sahabat Anas berkata: Rasulullah juga melakukan hal itu( yaitu memberikan salam kepada mereka). (Muttafaqun Alaihi).

Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan persabatan yang baik adalah selalu menjalin komunikasi yang baik dengannya walau sekedar menanyakan kabar terutama dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin maju memudahkan untuk selalu intens dalam berkomunikasi. Seseorang akan selalu dihormati bila ia selalu memulai menghormati orang lain terlebih dahulu. Sayangnya manusia malu atau gengsi untuk memulainya, misalnya malu menyapa terlebih dahulu.

Memberikan tempat kepadanya dalam sebuah majelis

Ada pepatah yang berbunyi:”Barangsiapa menanam pasti akan menuai”. Bila direnungi secara mendalam pepatah ini memotivasi kepada kita agar selalu berkarya atau investasi kebaikan yang kelak akan dirasakan manfaatnya.

Setiap manusia yang mau berbuat kebaikan pasti Allah akan membalasnya dengan setimpal tak ada yang dikurangi sedikitpun. Bahkan atas rahmat-Nya, pahala kebaikan seseorang dilipatgandakan sampai tak terbatas. Imam Qusyairi dalam risalahnya mengutip kisah seorang ulama’ yaitu Bisyr Al-Hafi yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Di dalam mimpinya, Nabi bertanya kepadanya:”Hai Bisyr, tahukah kamu, alasan Allah mengangkat derajatmu dibanding teman-temanmu?”

Lalu ia menjawab:”tidak wahai Nabi.”

Kemudian Nabi menjelaskan: ”berkat engkau mengikuti sunnahku dan pelayanan yang kau berikan kepada orang-orang shaleh serta nasehat yang kau berikan kepada saudara-saudaramu dan juga kecintaanmu terhadap sahabat dan keluargaku menempatkan dirimu ditempat yang mulia.”

Kisah ini cukup kiranya dijadikan pelajaran juga sebagai motivasi bagi diri agar selalu berbuat kebaikan karena akan mendapatkan kemuliaan dan kesuksesan di masa depan.

Memanggilnya dengan nama yang sukai.

Islam mengatur umatnya agar berprilaku yang baik kepada siapapun, kepada Allah sebagai Tuhannya, juga kepada sesama manusia terutama bila memanggil seseorang dengan namanya atau memakai gelar akademik yang ia miliki.

Pada hakikatnya manusia suka bila dipuji, dihargai terutama dengan panggilan yang ia sukai. Namun banyak orang memanggil teman, sahabat, kawan dengan panggilan yang tak pantas untuknya, misalnya dengan nama hewan, atau menggunakan nama yang bersifat tak baik dan tak pantas diucapkan.

Hal ini bila dipraktekkan sebuah pertemanan atau persahatan akan semakin harmonis. Dari sini pentingnya menjaga lisan agar tak menyakiti orang lain terutama dengan sebutan yang merendahkan harga diri seseorang.

Pengirim: Moh Afif Sholeh, Alumnus Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA