Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

BMT Perlu Go Digital

Kamis 21 Nov 2019 16:23 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Baitul Maal wa Tamwil

Ilustrasi Baitul Maal wa Tamwil

Foto: Foto : MgRol_93
Digitalisasi harus dilakukan BMT sebelum ceruk mikro diambil pasar lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peran Baitul Maal wa Tamwil (BMT) perlu diperkuat dengan digitalisasi. Pengusaha yang juga salah satu penggerak ekonomi mikro, Sandiaga Uno menyampaikan BMT harus dibawa ke era kekinian dengan digital.

Baca Juga

"Dalam konteks kekinian, peran BMT masih sangat relevan," kata dia saat menghadiri Indonesia Islamic Microfinance Leaders Forum yang digelar Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) di Aryaduta Hotel, Jakarta, Rabu (20/11).

Sandiaga mengaku ini juga salah satu yang mendasari pemikiran lahirnya OK Oce dulu. Ia ingin ada program pengembangan semacam satu desa satu BMT namun dikelola secara bersama dan established.

Revolusi digital atau 4.0 dianggapnya sebagai peluang, bukan ancaman, termasuk untuk BMT. Ia memandang KNKS harus mencari cara agar BMT harus mengarah ke digitalisasi. Dengan pengelolaan bersama, hal ini akan jauh lebih memungkinkan.

"Saya dorong banget makanya, agar berkolaborasi dan berinovasi, mendorong terobosan-terobosan yang zaman now," kata dia.

Kesempatan tersebut juga harus diambil secepatnya karena kini semakin banyak pihak membidik ceruk pasar mikro. Sandiaga tidak mempermasalahkan lembaga keuangan legal, melainkan ilegal seperti platform pinjaman daring abal-abal.

Ia menilai maraknya pinjaman online ilegal dan korban-korbannya karena inklusi masyarakat belum sepenuhnya tergarap oleh sektor keuangan. Pinjol ilegal itu hanya menggunakan platform teknologi untuk memeras masyarakat.

"Makanya kita harus ambil digitalisasi, teknologi ini untuk kepentingan yang baik, kemaslahatan umat," kata Sandiaga.

Direktur Bidang Keuangan Inklusif, Dana Sosial Keagamaan, dan Keuangan Mikro Syariah KNKS, Ahmad Juwaini mengamini penguatan BMT dengan digitalisasi. Saat ini, jumlah BMT mencapai lebih dari 5.500 unit di seluruh Indonesia.

Namun, jumlah tersebut masih harus dikonfirmasi. Ahmad mengatakan saat melihat fakta di lapangan, cukup banyak BMT yang mengalami penurunan performa dan kondisi sehingga harus tutup.

"Kita berharap bisa disiapkan penguatan teknologinya, termasuk dengan apex," kata dia.

Ahmad menyampaikan permasalahan BMT memang cukup banyak. Ada juga perbedaan-perbedaan prinsip yang bisa memecah. Namun menurutnya, itu bukan alasan untuk tidak bersama dan bersatu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA