Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Orang Tua Terlibat, Anak Pun Hebat

Kamis 21 Nov 2019 13:18 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ayah bersama anaknya (ilustrasi).

Ayah bersama anaknya (ilustrasi).

Foto: Republika/Musiron
Pendidikan keluarga harus menjadi perhatian bersama untuk menciptakan anak-anak hebat

Siapa yang tidak menginginkan buah hati Ayah dan Bunda semua bahagia? Bahagia merupakan hak dari semua orang, tidak terkecuali untuk si buah hati.  Ruang dan dimensi anak-anak harus diisi dengan aktivitas maupun kegiatan yang produktif yang dapat merangsang aspek psikomotoriknya berjalan dengan baik. 

 

Ayah dan Bunda harus bisa memberikan sebuah stimulus dan respon yang baik terhadap si buah hati. Hadirkan suasana yang membangun karakter anak dengan menampilkan contoh konkrit dari perilaku Ayah dan Bunda. Transformasi nilai-nilai keharmonisan dan komunikasi efektif diperlukan agar anak dapat meneladani terhadap apa yang anak lihat dan dengar dari Ayah Bundanya.

 

Anak-anak lebih menyukai hal-hal yang bersifat fun, asyik serta kegiatan fisik yang menyenangkan. Ayah dan Bunda harus mengerti dan memahami segala aktivitas buah hati tercintanya. Jangan sesekali membatasi aktifitasnya, jika ada pembatasan aktifitas, maka perkembangan psikomotoriknya akan berjalan dengan lambat. 

 

Aspek psikologi anak-anak sangat rintih dengan tekanan dan pembatasan-pembatasan aktifitasnya dari orangtua. Bebaskan anak-anak berekspresi dengan dunianya namun harus tetap ada monitoring (kontrol) yang baik dari orangtua agar tetap terjaga dari dunia anak-anak yang semestinya. 

 

Lingkungan keluarga yang kondusif serta menyenangkan menjadi tempat utama bagi perkembangan kognitif, psikomotrik dan psikologinya. Pola komunikasi yeng efektif juga sangat mempengaruhi terhadap perbendaharaan kata si buah hati. 

 

Gunakan bahasa yang edukatif (mendidik), ajari anak-anak dengan bahasa yang baik dalam segala aktivitasnya. Penting bagi Ayah Bunda semuanya, jangan tampilkan konflik Ayah dan Bunda di hadapan anak-anak, karena sekecil apapun konflik yang ditampilkan maka akan terekam dalam memori anak-anak, suatu saat anak-anak akan mengingat hal tersebut.

 

Besar kemungkinan anak-anak akan menjadi korban disharmonisasi keluarga dan pada masa mendatang besar kemungkinan pula si buah hati akan menjadi pelaku konflik, karena Ia masih menyimpan memori konflik itu. 

 

Dimulai dari lingkungan keluarga, Ayah dan Bunda harus memiliki kurikulum tersendiri untuk mendidik dan mengasuh buah hati. Model pembelajaran dan percontohan kepada anak-anak harus sesuai dengan perkembangan usia dan mentalnya. 

 

Pergunakan bahasa ajakan, bukan bahasa yang terkesan untuk menyuruh kepada anak-anak. Suasana yang membangun kepribadian anak-anak merupakan skala prioritas untuk membuat Mereka merasa senang terhadap proses pelibatan aktifitasnya.

 

Ayah dan Bunda harus memberikan edukasi sosial terhadap si buah hati. Ajari Mereka cara mengucapkan terimakasih terhadap sesuatu pemberian dari teman sepermainannya. Yang perlu diingat untuk Ayah Bunda semua adalah jangan sesekali mengajarkan kepada si buah hati untuk mudah menyalahkan, menjadi hal yang wajar bagi anak-anak dalam kegiatan sehari-harinya bertengkar dan berselisih dengan teman sepermainannya. 

 

Ayah dan Bunda harus mengajarkan dan menampilkan contoh mediasi sosial kepada anak-anak agar tidak mudah menyalahkan. Ini menjadi sangat penting, karena akan membentuk karakter anal-anak agar tidak mudah marah serta dapat memcahkan masalah sendiri dengan baik.

 

Anak-anak juga membutuhkan literasi terkait bagaimana cara menghargai dan menghormati terhadap orang yang lebih tua darinya. Berikan edukasi dari Ayah dan Bunda kepada anak-anak perihal hubungan sosialnya kepada yang lebih tua. 

 

Contoh yang paling mudah adalah Ayah dan Bunda semua ketika berada dalam kegiatan anak-anak dan ingin memanggil teman sepermainannya yang lebih tua, maka harus diawali dengan kata “mas atau mba”. 

 

Penting untuk diketahui bersama bahwa anak-anak juga butuh sanjungan yang tulus dari Ayah dan Bunda semua. Sering-seringlah Ayah dan Bunda memanggil si buah hati dengan panggilan “sayang atau Dek” agar buah hati merasa diperhatikan dengan baik dengan penuh cinta dan ketulusan. 

 

Di usianya yang masih dini, anak-anak cenderung aktif berbicara dan kadang cenderung berisik itu wajar dan merupakan fitrah dari anak-anak. Penting bagi Ayah Bunda semua, jangan sekali-kali mengatakan kepada anak-anak untuk diam dan jangan berisik, karena itu memang fitrah anak-anak, Mereka memiliki rasa ingin tahu yang berlebih dan ingin mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya.

 

Tugas Ayah Bunda semua adalah mengarahkan pembicaraan maupun pertanyaan anak-anak kepada hal yang edukatif dengan penuh kesabaran.

Pendidikan keluarga dan anak harus menjadi perhatian bersama untuk menciptakan anak-anak hebat, berdaya dan berguna dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Pengirim : Ade Irmanus Sholeh (Kepala Bidang Pendidikan motivator-anak.com)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA