Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

M Qodari: Motif Nasdem dan Berkarya Dekati PKS Berbeda

Rabu 20 Nov 2019 18:15 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto seusai konferensi pers di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).

Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto seusai konferensi pers di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Qodari melihat Berkarya dekati PKS karena punya kesamaan tak cocok dengan Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai ada motivasi yang berbeda antara Partai Nasdem dan Partai Berkarya dalam mendekati Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menurutnya, Partai Nasdem lebih ingin membangun kekuatan baru bersama PKS.

"Pada saat ini poros Gondangdia isinya adalah partai-partai anggota koalisi 01 minimal separuhnya karena di sana ada  Golkar, kemudian PKB, PPP serta Nasdem sendiri. Tapi tidak ada PDIP dan Gerindra," kata Qodari kepada Republika.co.id, Rabu (20/11).

Sedangkan motivasi Partai Berkarya mendekati PKS antara lain karena punya kesamaan yakni ketidakcocokan dengan Presiden Jokowi. Karena tidak memiliki kursi di parlemen, maka Berkarya mencoba mencari panggung dengan mengajak bertemu PKS. "PKS tentu saja tidak ingin di luar sendirian dan itu dia juga mau bertemu dengan Partai Berkarya," ujarnya.

Di sisi lain, ia menduga alasan Partai Berkarya mendekati PKS lantaran Ketua Umum Partai Berkarya Tommy Soeharto sudah merasa nyaman dengan PKS. Di masa lalu, PKS pernah mengusulkan gelar kepahlawanan untuk Soeharto. Namun ia meminta agar hal itu dipastikan lagi ke Partai Berkarya.

Sebelumnya Ketua DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengungkapkan isi pertemuan petinggi Partai Berkarya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Selasa (19/11) kemarin. Andi mengungkapkan Bahwa pertemuan tersebut hanyalah pertemuan silahturahmi biasa untuk memenuhi undangan petinggi PKS.

"Bukan untuk mendukung partai oposisi atau menjadi bagian dari partai oposisi," kata Andi dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.

Menurutnya tidak menutup kemungkinan pertemuan yang sama dengan partai lain pendukung pemerintah juga bisa dilakukan. Ia menegaskan bahwa Partai Berkarya tidak membeda-bedakan partai manapun.

"Bahwa dalam menghadapi Pemilu 2020 Partai Berkarya akan berkoalisi dengan partai sesuai dengan koalisi di daerah yang melaksanakan Pilkada, tidak hanya sebatas dengan PKS," ujarnya.

Begitu juga dalam menghadapi Pemilu 2024. Menurut Andi, Partai Berkarya menganggap semua partai adalah mitra dan kompetitor, sehingga evaluasi dan persiapan ke sana harus dilakukan dengan langkah-langkah positif baik internal partai maupun eksternal partai.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA