Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Produksi Melimpah Jateng Upayakan Petani Garam tak Merugi

Rabu 20 Nov 2019 16:21 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Friska Yolanda

Petani memanen garam di areal tambak garam rakyat Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah, Senin (8/7/2019).

Petani memanen garam di areal tambak garam rakyat Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah, Senin (8/7/2019).

Foto: Antara/Aji Styawan
Tahun ini, produksi garam di Jateng mencapai 1,043 juta ton.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Musim kemarau yang berlangsung panjang di Provinsi Jawa Tengah memberikan andil positif bagi produktivitas garam rakyat di daerah ini. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, total produksi garam tahun 2019 ini mencapai 1,043 juta ton. Angka ini meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan produksi garam Jawa Tengah, pada tahun 2018 lalu.

Baca Juga

"Tahun lalu, produksi garam kita hanya sebanyak 751.463 ton," kata Kepala Dinlutkan Provinsi Jawa Tengah, Fendiawan Tiskiantoro, Rabu (20/11).

Ia mengatakan, lonjakan produksi garam rakyat ini salah satunya dipengaruhi oleh musim kemarau yang berlangsung lebih panjang di Jawa Tengah. Beberapa daerah yang menjadi sentra petani garam rakyat terdapat di Kabupaten Rembang, Brebes, Cilacap, Demak, Batang, Kebumen, Purworejo, Jepara dan Kabupaten Pati. Jumlah total petani garam di daerah tersebut  mencapai 14.836 orang. Jumlah petani garam terbanyak berada di Kabupaten Pati yang mencapai 8.178 orang.

"Berikutnya disusul Kabupaten Rembang dengan 4.009 orang petani dan Kabupaten Demak sebanyak 1.354 orang petani garam," jelasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memfasilitasi dan membantu petani garam agar terus bisa berproduksi serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Bantuan berupa sarana prasarana telah disalurkan melalui Dinlutkan kepada sejumlah kelompok petani garam yang ada di Jawa Tengah.

"Kami terus melakukan pembinaan dan juga fasilitasi agar para petani garam semakin produktif dan memiliki kualitas bagus," terangnya.

Terkait dengan anjloknya harga garam di tingkat petani akhir- akhir ini juga telah diantisipasi. Pemprov Jawa Tengah tidak tinggal diam. Beberapa upaya telah dilakukan untuk melindungi harga garam tetap stabil di pasaran.

Upaya tersebut dilakukan dengan membangun gudang garam di sentra- sentra penghasil, pembangunan tunnel dan juga pemberian bantuan geoisolator. Dengan adanya bantuan itu, maka stabilitas harga dapat dijamin. Apabila saat panen dan harga anjlok, maka garam dapat disimpan terlebih dahulu di gudang- gudang yang telah disediakan. 

Selain itu, pencarian industri yang mau menyerap produksi garam petani juga terus dilakukan oleh Pemprov Jawa Tengah. Upaya meningkatkan kualitas garam petani dengan memberikan bantuan geoisolator dan rumah tunnel dimaksudkan agar garam produksi petani memiliki kualitas bagus.

"Dengan kualitas garam yang terjaga tersebut, diharapkan akan mampu mendongkrak harga menjadi lebih tinggi di pasaran," tegasnya.

Ia mengakui harga garam tahun ini memang anjlok di kisaran Rp 300 hingga Rp 400 per kilogram. Padahal pada 2016 lalu, harga garam bisa mencapai Rp 1.000 per kilogram.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA