Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Jaga Cintamu, Jangan Biarkan Ia Berbalut Nafsu

Rabu 20 Nov 2019 15:47 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Anak Sekolah sedang Pacaran di Pinggir sungai (ilustrasi).

Anak Sekolah sedang Pacaran di Pinggir sungai (ilustrasi).

Foto: Republika/Musiron
Remaja diminta menahan dan menjaga diri dari cinta berbalut nafsu

"It's my first love 

What i'm dreaming of

When i go to bed

When i lay my head upon my pillow 

Don't know what to do"

(First Love, Nika Costa) 

 

First love biasa dikatakan juga Cinta monyet. Cinta anak-anak yang beranjak remaja. Cinta dalam balutan seragam sekolahan. 

Dada berdebar lebih kencang saat bersamanya. Ingin curi pandang melihatnya. Yang terbayang dalam benak sering hanya dirinya.

Untuk mengekspresikan cintanya, banyak yang akhirnya melabelkan status hubungannya, baik itu TTM (Teman Tapi Mesra), HTS (Hubungan Tanpa Status), atau sah Pacaran. Para remaja yang sedang dimabuk cinta, atau bahasa kekiniannya bucin, seolah dibutakan oleh cintanya. Cinta yang disetir oleh nafsunya. Seperti yang terjadi di Bandung. Sempat viral, tersebar video sepasang kekasih berbalut seragam putih abu memadu kasih di pinggiran sungai Cikapundung. Awalnya hanya saling sender, tapi setan berhasil membujuk keduanya untuk berperilaku tidak senonoh sehingga video pun diburamkan. Astagfirullahal'adziem. 

Bolehkah? Salahkah? Dosakah? 

Cinta adalah turunan dari naluri berkasih sayang yang sudah Allah setting dalam diri kita. Ia sesuatu yang fitrah dalam diri. Wajar adanya. Tapi, bukan berarti ia dibebaskan berekspresi tanpa batas. Karena ia fitrah, Allah muliakan cinta kepada lawan jenis dalam ikatan yang suci. Pernikahan. 

Anak sekolah belum waktunya untuk menikah, kata orang zaman sekarang. Lantas, tahan rasa itu. Alihkan pada ekspresi cinta dan kasih sayang yang lain. Pupuk cinta pada Allah, Rasul, orang tua, dan keluarga kita, juga saudara sesama muslim. Hingga semakin semangat kita beribadah pada Nya, melakukan apapun hanya untuk Nya. Hingga tiba waktunya, kita nikmati cinta dalam Ridho Nya. 

Sebagaimana sucinya cinta pertama Ali dan Fatimah sang penghulu surga. Siapa yang sangka kalau Ali lah cinta pertama Fatimah. Dan siapa sangka juga kalau cinta pertama Ali adalah Fatimah. Namun, mereka pendam rasa itu dalam-dalam saat belum siap untuk merealisasikan dengan seharusnya. Bahkan setan pun tak tahu rasa itu. Subhanallah. Sampai Allah satukan cinta mereka dalam ikatan suci. Hingga kini murninya cinta pertama Ali Fatimah jadi pelajaran bagi kita. 

Jangan umbar cintamu. Jangan kotori sucinya cinta yang tlah Allah beri. Simpan dalam diam. Alihkan dengan aktivitas lain yang lebih Allah sukai. Biarkan Allah lukiskan skenario terindahnya untuk kisah cinta kita. 

Wallahu'alam bish shawab

Pengirim: Fatimah Azzahra, S. P

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA