Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Antara Food Vlogger dan Kelaparan Suku Anak Dalam

Jumat 25 Oct 2019 15:27 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang anak yang menderita kelaparan meminta makanan di jalan

Seorang anak yang menderita kelaparan meminta makanan di jalan

Foto: storyeo.com
Ironi di kota makanan berlimpah tapi Suku Anak Dalam terpaksa makan 1 kali sehari

Bagi pencinta tontonan yang sering jadi trending di channel youtube, menonton food  vlogger menjadi 1 hiburan tersendiri. Apakah itu kuliner keliling nusantara, mukbang makanan korea atau tantangan makan makanan ekstra pedas menghiasi layar gadget kita.

Terkadang dari segi jumlah kuantitas makanan ataupun harga banyak membuat kita bertanya-tanya, sebanyak itukah makanan yang bisa masuk ke perut manusia  atas nama mukbang? Atau apakah tak sayang menghabiskan jutaan rupiah untuk mengecap rasa jamur truffle yang langka atau pasta dengan topping serpihan emas 24 karat??

Hidup itu pilihan, termasuk menyoal makanan yang kita telan. Ada yang berkilah, ah kan itu cuma untuk tontonan. Atau ada ucapan, ya selama terbeli atau mampu menjangkau harga makanan dan minuman tadi itu hak mereka.

Namun sadarkah kita semua, di saat mata kita terpuaskan dengan sajian dari para food vlogger tsb, ada ironi yang membuat miris hati nurani kita. Saat beberapa dari kita memiliki daya beli dengan apa yang ada di dalam isi dompet kita, di belahan sisi dunia yang masih bernama Indonesia, rawan pangan melanda.

Mulai dilansir sejak Agustus 2019 kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) setelah mendapatkan info akan ada kekeringan dari pihak BMKG ( Badan Meteorologi Klimatogi dan Geofisika) mulai memetakan dampak dari kekeringan tsb. Wilayah yang terdampak parah akan meliputi 7 provinsi, 101 kabupaten, 683 kecamatan dan 2080 desa atau kelurahan ( Liputan6.com, Jumat (23/8/2019).

Di perkotaan efek yang kontras terasa adalah berkurangnya debit air tanah sehingga memunculkan permasalahan sulitnya persedian air. Namun berbeda di wilayah kantong-kantong lumbung padi, perkebunan dan di daerah yang masih mengandalkan sumber konsumsi dari SDA alami langsung. Kekeringan menjadi peluang munculnya rawan pangan.

Salah satu daerah yang terkena rawan pangan adalah wilayah Suku Anak Dalam di Jambi. Disebutkan bahwa buruan mereka sulit didapatkan hingga mereka hanya mengkonsumsi kera hasil buruan. Porsi makan mereka pun hanya 1 kali sehari.

Jika tidak didapatkan buruan maka mereka menahan lapar dan mencukupkan isi perut dengan meminum air saja. Sungguh ironi bagi negeri yang kita dimana di saat yang sama di perkotaan besar kesediaan pangan melimpah hingga memudahkan kita untuk mukbang ataupun berwisata kuliner tanpa batas.

Islam sebagai Diin yang menyeluruh memandang bahwa ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup mendasar adalah karena tidak adanya jaminan distribusi barang/jasa pemenuh kebutuhan bagi setiap individu.

Saat ini dimana kita hidup dalam ranah Kapitalis, bahasan kelangkaan barang/jasa terbatas pada bagaimana memproduksi dan mendistribusikannya saja. Tidak pernah dibahas bagaimana jaminan sampainya pemenuhan tadi pada tiap individu ( Hafidz Abdurrahman, Muqadimmah Sistem Ekonomi Islam, Al-azhar press hal. 43) 

Sehingga setiap warga negara, faktanya pada saat ini di pelosok manapun dihadapkan pada kemampuan menjangkau kebutuhan dengan daya belinya masing-masing. Fungsi negara dalam sistem ekonomi saat ini hanya sebagai pengatur dan pembuat hukum serta memantau saja namun belum sampai pada tahapan menjamin terpenuhinya kebutuhan tadi secara real.

Islam sebagai way of life  mengatur bahwa negaralah yang berada di posisi penjamin pemenuhan kebutuhan tsb. Hal tsb salah satunya tegak atas sabda Rasulullah saw yang berbunyi: '' Ingatlah, setiap orang dari kalian adalah pemelihara dan setiap orang dari kalian bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Pemimpin yang memimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya''  (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad). Ibn ‘Adi juga meriwayatkan dari Anas dengan sanad shahih, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

إِنَّ اللَّه سَائِل كُلّ رَاعٍ عَمَّا اِسْتَرْعَاهُ حَفِظَ ذَلِكَ أَوْ ضَيَّعَهُ

Sesungguhnya Allah pasti menanyai setiap râ’in( pemimpin)  atas apa yang dipercayakan pemeliharannya kepada dia; apakah ia menjaga (memelihara) hal itu atau menelantarkannya. Termasuk di dalamnya perkara pemenuhan tiap rakyatnya.

Maka tak aneh jika kita mendapati fragmen sejarah Islam yang berkisah tentang Rasulullah saw meminta  Bilal untuk mencari pinjaman ketika harta baitul mal kosong. Atau kisah Umar bin Khattab ra yang memanggul sendiri sekarung gandum dari baitul daqiiq ( rumah tepung ) untuk disampaikan pada rakyatnya yang membutuhkan. Karena seorang pemimpin yang merindu wangi syurga akan takut jikalau terjadi kesenjangan akibat tiadanya jaminan pada tiap rakyatnya seperti pada saat ini.

Allahu 'alam bis Shawwab

Pengirim: Novita Natalia, IRT dan Pelaku Homeschooling Group dari Bandung

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA