Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Wapres Inginkan Kasus Sukmawati Selesai Lewat Mediasi

Rabu 20 Nov 2019 14:55 WIB

Rep: Fauziah Mursid, Mabruroh/ Red: Andri Saubani

Wakil Presiden Ma

Wakil Presiden Ma

Foto: Republika/Fauziah Mursid
"Ya cobalah saya usulkan untuk di mediasi saja," kata Wapres Ma'ruf Amin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin menginginkan kasus pernyataan kontroversi Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad bisa selesai dengan damai. Ma'ruf pun mengusulkan penyelesaian masalah bisa selesai melalui mediasi.

"Ya cobalah saya usulkan untuk di mediasi saja, kita ini sudah terlalu sering (masalah seperti ini," ujar Ma'ruf di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (20/11).

Ma'ruf tidak mau, masyarakat terus menerus berhadap-hadapan karena masalah sensitif. Meskipun, Ma'ruf menilai pernyataan Sukmawati seperti yang beredar dalam video viral tersebut sangat tidak tepat membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno.

Apalagi kata Ma'ruf, Soekarno juga beragama Islam, yang sudah pasti meyakini Nabi Muhammad SAW. "Membandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno itu tidak sebanding, tidak tepat, penyelesaiannya sebaiknya kalau bisa dimediasi itu lebih bagus supaya kita tidak terus berhadap-hadapan," ujar Ma'ruf.

Karena itu, ia berharap Sukmawati menyampaikan permohonaan maaf atas pernyataan yang kemudian viral tersebut. Dengan begitu, kasus pernyataan kontroversial tersebut tidak berujung di pengadilan.

"Kalau orang minta maaf kalau memang salah enggak ada masalah, gitu kan, jangan kemudian harus diselesaikan lewat pengadilan," ujar Ma'ruf.

Wakil Ketua Majelis Ulama (MUI) itu menilai mediasi bisa dilakukan lewat pihak mana saja, yang terpenting memberikan solusi penyelesaian damai. Untuk selanjutnya, Wapres Ma'ruf juga mengimbau para tokoh berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di publik agar kemudian tidak menjadi kontroversi.

"Baiknya kita jangan kontroversi-kontroversilah, kontroversi ditinggalkanlah, bikinlah narasi-narasi yang membawa kerukunan, jangan narasi konflik, baik agama maupun pandangan-pandangan yang bisa menimbulkan konflik itu dijauhkan," ujarnya.

Sukmawati dilaporkan atas perkataannya yang membandingkan Nabi Muhammad dengan Presiden pertama RI Sukarno. Ucapan itu dilontarkan oleh Sukmawati dalam sebuah diskusi bertajuk "Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme."

Dalam diskusi itu, Sukmawati mengungkit perjuangan Bung Karno memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda. Diskusi itu digelar di Gedung The Tribata Darmawangsa, Jakarta Selatan, pada 11 November lalu dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019.

Sukmawati pada awalnya berbicara mengenai perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kemudian, Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada peserta diskusi.

"Sekarang saya mau tanya nih semua, yang berjuang di abad 20 itu Nabi yang Mulia Muhammad apa Insinyur Sukarno untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan ibu ini," tanya Sukmawati dalam rekaman video yang beredar viral.

Kuasa hukum Sukmawati, Petrus Selestinus menyatakan, bahwa Sukmawati tidak memiliki niat untuk melakukan tindakan penistaan agama. Yang diucapkan Sukmawati dalam acara diskusi tersebut adalah mengajak masyarakat untuk bisa menghormati dan menghargai jasa para pahlawan.

"Dia merasa tidak punya niat sama sekali, untuk menista, tujuan Bu Sukma agar mengajak semua kelompok masyarakat, generasi tua dan muda menghormati juga para pahlawan, tokoh-tokoh bangsa yang sudah berjasa melahirkan bangsa ini dengan kebinekaan," jelas Petrus saat dihubungi Republika, Senin (18/11).

Menurut Petrus, apabila video asli rekaman diskusi pada 11 November 2019 tersebut didengarkan secara cermat. Maka tidak ada kalimat Sukmawati yang menjurus pada penistaan agama sebagaimana dilaporkan.

"Kalau didengarkan secara cermat, maka tidak ada satu kalimat atau kata pun yang berisi penistaan agama. Dengan demikian baik pihak ibu Sukmawati maupun masyarakat, yang saat ini sudah memiliki rekaman yang utuh akan segera melaporkan ke polri agar pihak yang mengedit, memotong dan menyebarkan seolah-olah ibu Sukmawati mengeluarkan pernyataan agama dengan membandingkan ini dan itu tidak benar," jelasnya.

Baca Juga

photo
Jejak Pelapor Sukmawati

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA