Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Mentan Kagumi Peternakan Ayam di BPTP Jateng

Rabu 20 Nov 2019 14:26 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Dwi Murdaningsih

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo

Foto: Republika/Bowo Pribadi
UPBS BPTP Jateng mempu menghasilkan ayam kampung yang teruji.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo terkesan dengan pola pengembangan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah. Hal ini terungkap saat Mentan mengunjungi Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) dan bertemu dengan kelompok peternak binaan BPTP Balitbang Jawa Tengah, di Sidomulyo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Selasa (19/11).

Menurut Mentan, resource (sumber daya) pertanian mulai dari perkebunan, hortikultura, tanaman pangan termasuk peternakan masih sangat terbuka. Baik ternak besar seperti sapi, kambing dan lain-lain termasuk ayam menjadi sumber daya yang harus terus dikembangkan.

Karena kalau betul-betul diurus menjadi sebuah usaha, bukan saja bisa untuk memenuhi pangan, namun juga mampu ‘mengenergi’ ekonomi di sebuah wilayah. “Maka ini akan menjadi sebuah potensi besar dan sangat terbuka,” ujar Syahrul.

Hari ini, kata Mentan, ia berkesempatan berada di BPTP Balitbang Jawa Tengah melihat langsung proses produksi day old chicken (DOC) atau anak ayam yang dihasilkan oleh UPBS setempat.

Ternyata UPBS BPTP Balitbang Jawa Tengah ini sudah bisa menghasilkan spesies anak ayam kampung yang sudah teruji tahan dan mampu beradaptasi dengan agroklimat wilayah setempat. Ayam ini memiliki daya tahan, bisa bertelur dalam satu tahun sebanyak 180 butir per ekor dan sebagainya.

“Yang menarik, pengembangan ayam KUB ini jua terus diarahkan untuk mendorong peningkatan perekonomian para peternak ayam lokal, di bawah binaan BPTP Balitbang  Jawa Tegah,” katanya.

Mentan juga menngaku, telah menyerap aspirasi dari para ketua kelompok peternak dan mereka membutuhkan modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang per kelompok mencapai 10 hingga 50 orang peternak.

Setelah dihitung-hitung kebutuhan permodalan  mencapai Rp 500 juta per kelompok. Maka mentan juga tertarik untuk membahas persoalan ini bersama dengan gubernur, perbankan serta jajaran Kementan yang ada di kabupaten hingga provinsi.

“Permodalan ini harus, kalau enggak rakyat nanti susah ngitungnya, apalagi jika harus ngambil dari bank yang bunganya mencekik. Saya kira dana KUR ini harus bisa dijembatani oleh pemerintah,” kata Mentan.

Syahrul juga menyampaikan, potensi pengembangan ayam KUB ini sangat besar dan terbuka. Karena ayam dan telur jadi protein yang dibutuhkan sehari-hari. Maka ia juga berharap dengan budidaya ayam KUB ini nantinya tidak sekedar untuk kebutuhan nasional.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA