Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Kemendikbud Cari Cara Atasi Anak Bisa Baca tanpa Paham Isi

Rabu 20 Nov 2019 06:19 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Nur Aini

Anak Indonesia (Ilustrasi)

Anak Indonesia (Ilustrasi)

Foto: Youtube
Bank Dunia menyebut anak Indonesia learning poverty, bisa baca tapi tak paham cerita.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno menanggapi temuan Bank Dunia soal masih banyak anak Indonesia mengalami learning poverty. Menurut Totok, untuk mengatasi hak itu Kemendikbud sudah melakukan asesmen sejak dini. 

"Yang penting kita pertama harus mengakui kalau memang faktanya seperti itu, lalu kemudian mengatasinya," kata Totok, ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (19/11). 

Learning poverty adalah kondisi ketika seorang anak berusia 10 tahun bisa membaca namun tidak bisa memahami cerita sederhana. Di negara miskin, learning poverty mencapai 80 persen. Berdasarkan data terbaru 2011, Indonesia termasuk di dalamnya.

Terkait hal tersebut, Totok menuturkan, hal yang sudah dilakukan Kemendikbud adalah melakukan asesmen secara jujur. Proses asesmen dilakukan pada peserta didik sejak awal mereka di sekolah dasar, tepatnya sejak kelas 2 SD. 

"Kita lakukan proses asesmen sejak awal. Kelas 2 itu, sehingga kelas 4 kita harapkan sudah selesai. Learning poverty kan kelas 4. Jadi kalau tidak bisa baca simple text, progres berikutnya akan terhambat. Kita cek sejak kelas 2," kata Totok menambahkan. 

Seandainya pada saat asesmen di kelas 2 SD diketahui anak tersebut memiliki potensi tidak bisa membaca maka masih ada waktu perbaikan selama satu atau dua tahun. Sehingga, ketika anak berusia 10 tahun sudah dijamin memiliki kemampuan yang cukup untuk membaca.

Totok pun membantah di Indonesia masih banyak anak yang mengalami learning poverty. Masalah tersebut memang masih ada di Indonesia, namun kebanyakan di daerah-daerah yang remote atau terpencil. 

"Secara spesifik kita belum melakukan studi mendalam mengenai itu. Tapi di daerah yang remote itu ada saja. Tapi tidak separah yang digambarkan tadi 53 persen," kata Totok. 

Berdasarkan sata dari Bank Dunia, secara umum, sebanyak 53 persen dari seluruh anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami learning poverty. "Manfaat pendidikan adalah memastikan anak-anak belajar di sekolah, tidak hanya sekadar datang ke sekolah. Upaya-upaya perlu dilakukan untuk menilai seberapa jauh siswa belajar dan menggunakan hasil penilaian tersebut untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan kepada provinsi, kabupaten, sekolah, guru, dan siswa yang membutuhkannya," kata Direktur Global untuk Pendidikan Bank Dunia, Jaime Saavedra.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA