Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Ketakwaan yang Hakiki

Selasa 19 Nov 2019 13:36 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Berdoa (Ilustrasi)

Berdoa (Ilustrasi)

Foto: REPUBLIKA
Ketakwaan yang hakiki bukan hanya soal ibadah tapi juga mencakup muamalah

Alhamdulillah hari ini kita masih diberikan nikmat iman. Meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridhoi Allah (lihat Q.S Al - Ma'idah ; 2). Sebagai orang yang beriman maka sudah selayaknya kita berusaha untuk terus taqwa kepada Allah. Menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Begitulah taqwa kita ketahui, sejak kita di masa sekolah. 

Namun taqwa ternyata tak semudah yang kita ucapkan. Meski sudah berislam sejak lahir, namun ternyata banyak perintah-perintah Allah yang baru kita ketahui. Meski besar di keluarga muslim, ternyata belum semua perintah Allah yang telah kita ketahui pun, dapat kita laksanakan. 

Sayangnya, persepsi Takwa bagi sebagian orang terbatas hanya pada ritual ibadah (ruhiyah). Padahal perintah Allah di dalam Al-Qur'an, mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Jika kita mau mempelajari lebih jauh dan lebih mendalam, betapa banyak perintah-perintah Allah yang belum dapat kita laksanakan. Betapa diri ini rasa-rasanya masih jauh dari definisi Taqwa. 

Ketakwaan ini tidak dapat berdiri sendirian. ketakwaan tidak hanya berbicara tentang ritual ibadah. Tapi ketaqwaan juga mencakup muamalah. Islam mengatur tidak hanya tentang ibadah, tapi seluruh aspek kehidupan manusia. Tauhid, akhlak, berpakaian, makanan, minuman, ekonomi, sosial, politik bahkan pemerintahan. 

Hari ini, ketika seorang muslim berusaha untuk takwa, yang ia dapatkan adalah gelar "Radikal". Padahal, ketakwaan diri dan masyarakat seharusnya bisa dijaga oleh pemerintah. Yakni dengan menegakan aturan-aturan sesuai dengan kehendak Allah beserta sanksi-sanksinya. 

Misalnya saja, seorang ibu berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik. Berusaha menanamkan iman dan mengenalkan syariat sejak dini. Namun bagaimana nanti ketika beranjak dewasa, si anak melihat laki-laki dan perempuan bukan mahrom bergandengan tangan. Melihat perempuan tidak memakai jilbab. 

Padahal si anak tahu, bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh berikhtilat. Padahal si anak tahu, perempuan seharusnya berkerudung. Lalu bagaimana masa depan si anak? Apakah iman dan taqwa nya bisa terjaga? Sungguh hanya Allah-lah sebaik-baik penjaga. Karena hari ini ujian keimanan dan ketaqwaan luar biasa dimana-mana. Sementara pemerintah sendiri belum dapat menjalankan peran sebagai penjaga ketaqwaan. 

Meskipun mungkin kita akan mendapat gelar radikal, karena berusaha untuk takwa (menjalankan setiap perintah dan larangan Allah dalam setiap aspek kehidupan), kita harus tetap menggunakan "kaca mata Islam". Harus selalu berpikir, apa-apa yang akan kita lakukan apakah sudah sesuai dengan perintah Allah? Jangan sampai ternyata malah melanggar larangan-Nya. 

Libatkan selalu Allah, tidak hanya dalam setiap hela nafas, lisan dalam dzikir, serta dalam doa. Namun libatkan juga Allah dalam setiap aktifitas mulai dari pagi bangun tidur, hingga malam. Apakah sudah sesuai dengan aturan Allah? 

Wallahu'alam bish shawab

Pengirim: Tita Rahayu Sulaeman

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA