Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Pertempuran Surabaya dan Sukarno

Apa Peran Sukarno dalam Pertempuran Surabaya?

Selasa 19 Nov 2019 11:43 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pasukan Gurkha melakukan sweeping dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Salah satu komandan pasukan Gurkha adalah Zia Ul Haq yang kemudian menjadi Presiden Pakistan.

Pasukan Gurkha melakukan sweeping dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Salah satu komandan pasukan Gurkha adalah Zia Ul Haq yang kemudian menjadi Presiden Pakistan.

Foto: Google.com
Apa Peran Sukarno dalam Pertempuran Surabaya?

Oleh: Teguh Setiawan, jurnalis senior dan mantan wartawan Republika

Suatu kali di pantri Republika, seorang kawan yang mengagumi Sukarno menuding-nuding saya dengan kata-kata kasar setelah saya bercerita tentang Pertempuran Surabaya yang dihentikan.

Tahun lalu, seorang rekan sekolah mengamuk-ngamuk di grup WA—seraya menuduh saya pengkhianat—karena mengutarakan hal serupa. Saya diam saja. Ya, senyum-senyum sajalah.

Setelah Jepang menyerah, sekutu mendarat di Jakarta dan Surabaya pada November 1945. Di Jakarta, pasukan sekutu disambut sukacita rakyat. Anton DH Nugrahanto, dalam Rahasia di Balik Perang Surabaya, menulis Sukarno ketakutan ditangkap sekutu dengan tuduhan kolaborator Jepang.

photo
Soekarno sebagai Romusha dengan nomor lengan 970 di Bogor.

Sukarno layak takut dan tuduhan kolaborator bukan isapan jempol. Ia, seperti ditulis Harry A Poeze dan menjadi judul tulisan Darmawan Sepriyosa di Republika.co.id, kemarin, mengenai Sukarno bekerja sama dengan Jepang mengirimkan romusha ke Burma. Sukarno pun romusha bernomor lengan 970.

Di Surabaya, sekutu mendarat dan membebaskan tentara Belanda dari kamp interniran. Terjadi euphoria kebebasan. Orang Belanda yang sedang mempersiapkan pesta menaikkan bendera merah-putih-biru pada malam hari.

Keesokan hari, insiden perobekan bendera Belanda terjadi. Setelah itu, terjadi pertempuran kecil-kecilan. Rakyat Surabaya menyerang pos-pos militer, yang membuat Inggris kelabakan.

Oktober 1945, Inggris mengirim Jenderal Hawthorne untuk meminta Sukarno memerintahkan pasukan di Surabaya menghentikan perang. Sukarno dan Hatta datang ke Surabaya dan mengatakan, “Musuh kita bukan sekutu. Mereka datang untuk membebaskan tawanan perang.”

Sesuai usul Van Mook, Inggris mengirim Mayjen Mallaby—perwira belakang meja—ke Surabaya. Namun, pangkat Mallaby harus turun menjadi brigjen karena memimpin Brigade 49.

Mallaby tidak keberatan. Alasannya, pasukan yang dipimpin adalah sepatukan terlatih dan berpengalaman. Brigade 49 mengalahkan Jepang di Burma.

Setelah gencatan senjata ditandatangani, Mallaby memerintahkan pasukannya menarik diri. Mengira Surabaya aman, malam hari ia mencari restoran di sekitar kawasan Jembatan Merah. Senapan menyalak, sebutir peluru menerpa dadanya, lalu granat tangan menerobos masuk ke dalam mobil dan meledak. Mallaby tewas dan terpanggang.

Peran<a href= Soekarno Pada Pertempuran Surabaya" />

   Keterangan foto: Lasykar rakyat dalam pertempuran 10 November 1945.

Inggris, yang selama Perang Dunia II tidak kehilangan satu jenderal pun, marah. Jenderal Lord Mounbatten menunjuk Mayjen Robert Mansergh melucuti senjata rakyat Surabaya.

Bung Tomo, Soemarsono, dan semua pemimpin rakyat Surabaya merespons dengan keras. Gubernur Surjo mendatangi laskar-laskar pemuda, membakar semangat pasukan untuk bertempur.

Pada 10 November, Inggris menghujani Surabaya dengan peluru meriam. Laskar Surabaya belum melawan. Di Jakarta, Amir Sjarifudin—yang mengurusi tentara—meneriakkan satu kata: ‘Lawan’.

Pesawat Royal Air Force (RAF) datang dari Burma untuk mengebom Surabaya. Dua pesawat RAF kena tembak meriam antipesawat. Salah satu pesawat ditumpangi Brigjen Guy Loder Symonds, yang sedang melakukan survei. Symonds tewas dan dimakamkan di Jakarta.

Jenderal Sudirman memperluas perang untuk mengeksploitasi keterbatasan pasukan Inggris. Setelah itu dia memotong jalur suplai logistik ke Inggris dari kota-kota di sekujur Pulau Jawa.

Setelah lima hari, tidak ada lagi tembakan dari kubu Inggris. Prajurit Inggris mulai stres, amunisi menipis, tanpa makanan, dan kelaparan. Di kalangan pejuang, individu-individu yang nekat meneror tentara Inggris yang putus asa.

Ada yang menerobos pos penjagaan Inggris dan meledakkan diri. Brigade 49, pasukan Inggris paling terkenal di Asia, kini berpotensi terbantai, mati kelaparan, atau menyerah dan tertawan dengan rasa malu.

Brigade 49 terkenal karena piawai mengalahkan Jepang dalam perang gerilya hutan, tapi mereka tidak terlatih menghadapi lawan yang menerapkan perang gerilya kota dengan taktik banjir manusia.

Akhirnya, Brigade 49 berteriak dan meratap kepada komandan mereka. Inggris menghadapi dilema. Apakah mungkin mereka sekali lagi mengirim jenderal untuk membujuk Sukarno menghentikan perang. Mereka malu.

Tidak. Inggris menunjuk Admiral Conrad Heifrich—perwira Belanda kelahiran Semarang yang lari ke Sri Lanka setelah seluruh armadanya ditenggelamkan Jepang dalam Pertempuran Laut Jawa.

Ia penentang keras Sukarno dan menolak kompromi apa pun dengan pemimpin tertinggi Indonesia. Kini, ia harus melakukan tugas membujuk Sukarno agar menghentikan Pertempuran Surabaya demi menyelamatkan ribuan tentara Inggris.
Heifrich berhasil. Sukarno pun memerintahkan pasukan di Surabaya menghentikan perang. Sudirman membuka blokade, yang memungkinkan Inggris mengirimkan logistik.

Hasil gambar untuk Soekarno pertempuran surabaya

Keterangan foto: Sukarno datang ke Surabaya sekitar 10 November 1945 untuk meminta gencatan senjata dilakukan.

Hari-hari berikutnya, situasi berbalik. Inggris, yang mendapat pasokan amunisi dan makanan, memukul mundur rakyat Surabaya dari tengah kota dengan mudah. Entah apa yang ada di benak Sukarno ketika mendapat laporan itu.

Perang Surabaya adalah perang besar, yang mempertemukan kekuatan menusia di pihak rakyat Surabaya dan keunggulan senjata di pihak Inggris. Sukarno menghentikan perang itu ketika rakyat Surabaya di ambang kemenangan. Akibatnya, bangsa ini tak punya perang besar yang dimenangkan.

Jauh dari Surabaya, orang lain mungkin belajar dari kesalahan Sukarno. Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap menolak mentah-mentah untuk gencatan senjata ketika pasukan Prancis terdesak hebat di Dien Bien Phu, Maret 1954.

Bagi Jenderal Giap dan Paman Ho tidak ada perundingan sebelum kami memenangkan perang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA