Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Kala Tito Berguyon Sebagai Produk Stunting Zaman Dulu

Selasa 19 Nov 2019 11:21 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Muhammad Hafil

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat mengikuti rapat kerja dengan Komite I DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat mengikuti rapat kerja dengan Komite I DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Stunting termasuk masalah kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) memberikan sambutan dalam acara penganugerahan swasti saba kabupaten/kota sehat tahun 2019 di kantor Kemendagri, Selasa (19/11). Di hadapan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto, Tito berguyon menyebut dirinya produk stunting beberapa waktu lalu.

Baca Juga

 "Kita banyak mengalami problema masalah kesehatan. Contoh masalah stunting yang disampaikan tadi oleh Pak Menkes. Ini problem serius kita, angkanya cukup besar yang pernah stunting atau yang masih sedang proses stunting alias kurang gizi. Sehingga terjadi kekerdilan Saya mungkin salah satu saya produk stunting zaman dulu," ujar Tito yang sontak disambut tawa para hadirin. 

"Karena saya masuk Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) saya paling belakang terus, Pak Terawan, yang lain tinggi-tinggi, saya paling belakang karena stunting makan kerupuk tok di paling belakang," lanjut Tito.

Di sisi lain, ia menuturkan, stunting merupakan permasalahan serius yang harus segera dituntaskan oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo, kata Tito, meggenjot habis-habisan penanganan stunting ini.

Ia meyakini Menkes Terawan saat ini diberikan tugas penting untuk menurunkan angka stunting. Namun, menurutnya, Kementerian Kesehatan tak bisa bekerja sendiri tanpa kerja sama kementerian dan lembaga terkait.

Salah satunya, Kemendagri dapat turun tangan dengan mendorong pemerintah daerah mewujudkan swasti (sehat sejahtera) saba (kota tempat bermukim). Menurutnya, tak hanya tindakan kuratif melainkan perlu didorong upaya preventif.

Sebelumnya saat sambutan Menkes Terawan mengatakan, dua permasalahan di bidang kesehatan diantaranya stunting dan jaminan kesehatan nasional. Penyelenggaraan kabupaten/kota sehat perlu didorong terus karena penanganan kesehatan membutuhkan dedikasi dan profesionalitas para pemangku kepentingan.

Ia menyebutkan, dalam kurun waktu enam tahun terjadi penurunan angka stunting. Pada 2013 angka stunting mencapai 37,2 persen, kemudian menurun menjadi 27,67 persen pada 2019.

"Percepatan penurunan angka stunting, penyelenggara kabupaten/kota sehat menjadi salah satu wujud nyata konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif karena di dalamnya terdapat indikator ketahanan pangan,l dan gizi, serta penyediaan layanan dasar dan sanitasi, serta pemenuhan pelayanan kesehatan yang merata di masyarakat," jelas dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA