Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Mahasiswa UB Ciptakan Alat Deteksi Penyakit Skizofrenia

Selasa 19 Nov 2019 07:38 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Tim gabungan mahasiswa baru angkatan 2019 dari Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) berhasil menciptakan alat pendeteksi penyakit skizorfenia sejak dini.

Tim gabungan mahasiswa baru angkatan 2019 dari Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) berhasil menciptakan alat pendeteksi penyakit skizorfenia sejak dini.

Foto: Humas UB
Pembuatan alat deteksi karena sulitnya deteksi penyakit skizofrenia sejak dini

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Tim gabungan mahasiswa baru angkatan 2019 dari Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) berhasil menciptakan alat pendeteksi penyakit skizorfenia sejak dini. Karya dari Rizka Fajriana Putri Ramadhani (Biologi/2019), Nadia Riqqah Nurlayla (Biologi/2019), dan Rahmah Nur Diana (Teknik Informatika/2019) ini dinamakan Maos App.

Rizka menjelaskan, inovasinya dapat mendeteksi dini penyakit skizofrenia melalui sidik jari. "Caranya dengan menggunakan matematika fraktal," kata dia.

Menurut Rizka, ide pembuatan Maos App ini berangkat dari keprihatinan atas sulitnya melakukan deteksi skizofrenia secara dini. Hal ini terutama dengan cara yang murah, cepat dan tepat. 

Rizka dan rekan-rekannya bekerja sama dengan salah satu Rumah Sakit yang ada di Malang. Mereka mengambil sampel 1.000 orang secara acak dalam pembuatan alatnya. Pengambilan sampel ini untuk mengidentifikasi adanya keterkaitan antara sidik jari dengan penyakit skizofrenia.

Dari hasil penelitian, Rizka menemukan, sidik jari antara penderita skizofrenia dan yang bukan terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut terhitung sangat signifikan dengan kisaran 95 sampai 99 persen.

Mengenai penggunaan matematika fraktal, Rizka mengaku memilki alasan tersendiri. Menurutnya, metode ini dapat mendeteksi ketidaksamaan pola sidik jari melalui rumus box-counting. Prinsipnya, menghitung jumlah box yang menutupi objek sidik jari.

Kemudian, ia melanjutkan, serangkaian iterasi akan menggunakan rumus yang sama. Dalam hal ini dengan tetap memberi ukuran box yang berbeda-beda. "Sehingga dari serangkaian deteksi sidik jari kami mendapatkan nilai akurasi diatas 80 persen," ujar Rizka dalam pesan resmi yang diterima Republika.co.id, Selasa (19/11).

Setelah melakukan deteksi sidik jari, algoritma diaplikasikan dalam bentuk aplikasi mobile. Aplikasi mobile ini diintegrasikan dengan fingerprint scanner. Dengan demikian, proses deteksi sidik jari skizofrenia menjadi lebih cepat dan mudah.

Melalui aplikasi ini, Rizka menilai, pengguna aplikasi dapat mengetahui apakah pengguna memiliki gejala skizofrenia atau normal. Apalagi aplikasi ini juga memiliki fitur khusus bagi pengguna. Antara lain, dapat memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi mengalami skizofrenia.

Berkat inovasinya ini, Rizka dan tim berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional. Kali ini prestasi datang dari ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention and Innovation, pada Oktober lalu. Mereka berhasil meraih empat penghargaan meliputi medali perak dan masing-masih satu penghargaan spesial dari Cina, Filipina dan Macao.

Rizka mengaku tidak menyangka timnya bisa mendapatkan empat penghargaan sekaligus. Ia berharap Maos App bisa dikomersialisasikan di Indonesia agar manfaatnya dapat dirasakan bersama

IEYI telah diadakan sejak 2004 sebagai hasil dari pertemuan Forum Internasional Kekayaan Intelektual (IFIP) di Tokyo, Jepang pada November 2003. Pertemuan tersebut diprakarsai oleh Institut Penemuan dan Inovasi Jepang (JIII) dengan melibatkan negara-negara dari Asia dan Afrika.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA