Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Anugerah Syariah Republika Dorong Inovasi Industri Syariah

Selasa 19 Nov 2019 07:33 WIB

Red: Budi Raharjo

Anugerah Syariah Republika 2018. Jejeran piala Anugerah Syariah Republika (ASR) 2018 di Jakarta, Kamis (8/11).

Anugerah Syariah Republika 2018. Jejeran piala Anugerah Syariah Republika (ASR) 2018 di Jakarta, Kamis (8/11).

Foto: Republika/ Wihdan
ASR juga sekaligus menjadi ajang silaturahim industri syariah di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Republika kembali menggelar Anugerah Syariah Republika (ASR) untuk mengapresiasi para pelaku industri ekonomi syariah. ASR 2019 akan dihelat di Jakarta, Selasa (19/11) malam.

Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi mengatakan, ASR merupakan wujud komitmen Republika untuk selalu mengapresiasi kinerja industri syariah. "Apresiasi ini diharapkan bisa mendorong industri syariah untuk terus berinovasi mengembangkan bisnisnya," kata Irfan, Senin (18/11).

Irfan menambahkan, ASR juga sekaligus menjadi ajang silaturahim industri syariah di Indonesia. Ia berharap ajang ini dapat menguatkan jejaring agar industri syariah semakin kuat.

Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji menyampaikan, ASR merupakan penghargaan tertinggi Republika kepada institusi keuangan syariah, seperti perbankan, asuransi, teknologi finansial (tekfin), multifinance, dan para pelaku keuangan sosial syariah seperti lembaga filantropi. Juga, mengapresiasi dan mendorong perkembangan industri halal dalam tujuan wisata halal (ramah Muslim) terfavorit.

ASR turut mengapresiasi tokoh yang berjasa dalam pengembangan ekonomi syariah Tanah Air. Pada perhelatan ASR ketiga ini, Republika mendaulat dua orang terpilih sebagai tokoh syariah dan kepala daerah terinovatif. Mereka dinilai tidak hanya memiliki kiprah nyata di masing-masing bidang, tetapi juga memberikan dampak yang besar di masyarakat dan bangsa.

Hasan mengatakan, lembaga keuangan syariah maupun industri halal memiliki peran besar terhadap perekonomian nasional dan menjadi arus baru perekonomian Indonesia. "Ekonomi syariah menjadi salah satu penopang tetap terjaganya pertumbuhan ekonomi nasional," katanya, Senin (18/11).

Dengan jumlah penduduk yang mayoritas Muslim, industri syariah nasional mesti berada di barisan terdepan dalam menyediakan dan memfasilitasi keperluan masyarakat terhadap produk dan jasa halal. Bahkan, produk dan jasa halal dalam negeri harus bisa menembus mancanegara.

Menurut Hasan, para tokoh yang bakal menerima penghargaan ASR 2019 memiliki andil besar dalam mengedukasi dan menggencarkan tentang pentingnya perekonomian syariah kepada masyarakat luas. Pada era digital saat ini, edukasi dan sosialisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menyemarakkan perekonomian syariah.

Baca Juga

"Republika sebagai bagian dari ekosistem ini memandang penting memberikan penghargaan kepada mereka yang berperan strategis mendorong tumbuh dan maraknya perekonomian syariah," katanya.

photo
Anugerah Syariah Republika 2018. Komisaris Utama Mahaka Media Erick Thohir (tengah atas), Menpan RB Syafruddin (kempat kiri), Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah), Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil (kelima kanan), Menteri Pariwisata Arief Yahya (keempat kanan) berfoto bersama seluruh pemenang Anugerah Syariah Republika (ASR) 2018 di Jakarta, Kamis (8/11).


Arus utama

Ketua Pelaksana ASR 2019 Elba Damhuri mengatakan, ASR 2019 mengangkat tema "Industri Syariah untuk Kebangkitan Perekonomian Umat". Republika, kata Elba, konsisten mengiringi upaya pemerintah yang sedang gencar mendorong dan mengarusutamakan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan nasional. "Dilaksanakannya ASR 2019 diharapkan dapat menjadi pemicu pelaku usaha untuk lebih gencar mengembangkan industri syariah Tanah Air," ujar Elba.

Elba mengatakan, sudah selayaknya para pelaku industri mendapatkan penghormatan dan penghargaan atas perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mengikis jurang kesenjangan sosial dan ekonomi.

Penghargaan diberikan dalam beberapa kategori. Kriteria penilaian berbasiskan data kuantitatif berupa catatan kinerja industri selama 2018 dan semester I tahun berjalan. Selain kuantitatif, penilaian juga berdasarkan indikator kualitatif, seperti pelayanan dan pandangan publik atau konsumen.

Penilaian ketiga didasarkan pada inovasi yang telah dilakukan para pelaku industri. Republika memantau terobosan yang sudah dilakukan, produk-produk yang dimiliki dan kegiatan-kegiatan yang digelar.

Penilaian keempat, Republika memasukkan unsur edukasi dan sosialisasi, yakni terkait komitmen industri keuangan syariah di Tanah Air dalam melakukan sosialisasi dan edukasi, mengajak masyarakat tahu, paham, dan akhirnya menjadi stakeholder mereka.

Tokoh syariah ASR 2018 yang juga pendiri Karim Consulting Adiwarman Karim mengapresiasi setiap upaya yang mendorong pelaku industri syariah untuk lebih maju. Menurut dia, sebagai industri yang relatif muda, industri ekonomi syariah sangat memerlukan dukungan dalam berbagai bentuk.

"ASR merupakan penghargaan tertinggi dari media yang memiliki basis pembaca umat Islam. Sehingga, ini dapat memberikan nilai yang lebih spesial bagi para pelaku industri," ujarnya.

Pengamat ekonomi syariah dari Institut Pertanian Bogor, Irfan Syauqi Beik, mengapresiasi Republika yang akan menggelar ASR 2019. Menurut dia, perhelatan itu menunjukkan komitmen Republika untuk pengembangan ekonomi syariah. "Saya kira ini suatu yang luar biasa dan memang ekonomi syariah harus terus disuarakan sehingga berpengaruh ke kebijakan penguatan oleh negara," katanya.

ASR juga sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat agar mau menggunakan produk ekonomi syariah. Irfan berharap, kegiatan ini bisa terus mendorong dan memotivasi pegiat ekonomi syariah agar tetap konsisten dan istiqamah.

Ia mengibaratkan, apresiasi dan penghargaan layaknya air bagi orang yang kehausan. Ini akan memberikan energi baru bagi para pelaku industri sehingga bisa terus berkiprah dan berkarya.

"Karena di tengah berbagai tekanan, situasi ekonomi global yang tidak menentu, gejolak perekonomian dunia yang tidak stabil, pelaku industri syariah harus bekerja keras luar biasa. Dalam kondisi seperti ini, adanya apresiasi dan penghargaan akan menjadi pengisi bahan bakar sehingga bersemangat untuk terus maju," kata Irfan. n lida puspaningtyas, ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA