Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Harga Minyak Turun Tertekan Ketidakpastian AS-Cina

Selasa 19 Nov 2019 07:54 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi kilang minyak

Ilustrasi kilang minyak

Foto: AP
Perang dagang 16 bulan antara AS-China telah memperlambat pertumbuhan global.

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Harga minyak turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Senin (18/11)). Ini menghapus sebagian besar keuntungan minggu lalu dan jatuh bersamaan saham Amerika Serikat karena ketidakpastian atas kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

Baca Juga

Minyak mentah berjangka Brent ditutup pada 62,44 dolar AS per barel, turun 86 sen, atau 1,4 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir 67 sen atau 1,2 persen lebih rendah pada 57,05 dolar AS per barel. Kedua harga acuan tersebut membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut pekan lalu, dengan Brent naik 1,3 persen dan WTI naik 0,8 persen.

Tiga indeks saham utama Wall Street juga turun dari rekor tertinggi pekan lalu menyusul laporan yang memicu kekhawatiran kesepakatan perdagangan Amerika Serikat-China mungkin tidak akan tercapai. Analis mengungkapkan, hal itu mendorong harga minyak lebih rendah.

“Minyak mentah telah menjadi sangat reaktif terhadap arah angin manapun yang bertiup dalam pembicaraan perdagangan (AS-China),” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York. 

Perang dagang 16 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia telah memperlambat pertumbuhan global. Hal tersebut mendorong para analis untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dan meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan akan berkembang pada 2020.

China dan Amerika Serikat melakukan 'pembicaraan konstruktif' tentang perdagangan dalam pembicaraan telepon tingkat tinggi pada Sabtu (16/11). Namun, laporan media pemerintah Xinhua itu tidak memberikan rincian lainnya.

Pada Senin (18/11), CNBC mengutip sumber Pemerintah China yang mengatakan suasana di Beijing tentang kesepakatan perdagangan sangat pesimistis. Hal itu karena keengganan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan tarif.

"Situasi perdagangan yang suram telah menghentikan reli," kata Robert Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York, menambahkan harga minyak mentah telah naik di awal sesi tetapi memudar ketika pasar New York dibuka.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA