Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Pendorong Ini Diperkirakan Bawa IHSG Menguat

Ahad 17 Nov 2019 15:08 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Indira Rezkisari

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Diperkirakan IHSG menguat hingga level 6.200 pada pekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpeluang menguat pada pekan depan. Dengan support di level 6.090 sampai 5.988 dan resistance di level 6.183 hingga 6.200.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menuturkan, pekan depan pelaku pasar masih akan mencerna perkembangan perang dagang. "Di akhir pekan optimisme muncul terkait solusi perang dagang, menyusul pernyataan Penasihat ekonomi Pemerintah Amerika Serikat (AS) Larry Kudlow yang mengatakan, Washington dan Beijing sudah mendekati perjanjian perdagangan," ujar Hans di Jakarta, Ahad, (17/11).

Larry, kata dia, menyatakan kalau pembicaraan sangat konstruktif dengan Beijing untuk mengakhiri perang dagang yang sudah berlangsung 16 bulan. Selanjutnya Juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng, tadi malam mengatakan kedua negara mengadakan diskusi mendalam tentang kesepakatan fase pertama.

Ia namun mencatat penarikan kembali beberapa tarif merupakan kunci untuk mencapai kesepakatan. Sebelumnya di tengah pekan lalu, Beijing dikatakan menolak permintaan Gedung Putih untuk perlindungan kekayaan intelektual dan mengekang transfer teknologi  dengan mekanisme penegakan hukum.

"Keinginan penegakan hukum terhadap pelanggaran kekayaan intelektual masih menjadi kendala kedua negara. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan, AS belum menyetujui desakan China untuk menghapus tarif impor," jelas Hans.

Terkait perang dagang, menurutnya, semua bisa berubah sangat cepat dari optimis menjadi kekuatiran di pasar. "Sudah sering pelaku pasar dikecewakan kegagalan perundingan kedua negara, biarpun sebelumnya berita positif tentang perundingan dagang," kata dia.

Hans menjelaskan, pasar pun akan kembali memperhatikan penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump dengan audiensi televisi pertama yang menghubungkan pemimpin AS itu secara langsung. Rencana pemakzulan itu akan menjadi sentimen negatif bagi pasar, karena akan menimbulkan ketidakpastian di AS.

Harapan penurunan bunga di akhir tahun pun memudar setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell mengindikasikan kemungkinan penghentian penurunan suku bunga AS dalam kesaksian selama dua hari di hadapan Kongres AS. Jerome Powell kembali menegaskan, gambaran pertumbuhan ekonomi AS terlihat berkelanjutan sehingga jalur penurunan suku bunga tidak akan berubah selama ekonomi terus bertumbuh.

"Dampak penuh dari penurunan suku bunga beberapa periode terakhir belum terasa mempengaruhi perekonomian. Beberapa data ekonomi yang baik membuat peluang penurunan bunga dalam waktu dekat menjadi sangat kecil," tuturnya.

Data CPI AS, lanjutnya, lebih baik dari perkiraan karena harga konsumen pada periode Oktober naik 0,4 persen. Angka itu melebihi ekspektasi.

Lalu data klaim pengangguran mingguan AS pekan lalu sebanyak 225 ribu, tertinggi sejak Juni. Sebelumnya Trump membidik Federal Reserve dengan mengeluhkan, suku bunga AS lebih tinggi daripada negara maju lainnya.

"Kita tidak mungkin berharap ada penurunan bunga The Fed dalam waktu dekat menyusul baiknya data ekonomi AS," ujar Hans. Ditambah lagi pidato Trump yang mengkritik kebijakan perdagangan Uni Eropa. Sebelumnya Washington memberi batas waktu hingga 14 November untuk memutuskan menaikkan atau tidak menaikkan tarif terhadap pabrikan otomotif Eropa dan Jepang.

Ada harapan AS akan menunda keputusan penerapan tarif tambahan terhadap impor kendaraan dari Uni Eropa hingga enam bulan. "Perang dagang bisa melebar ke Uni Eropa dan Jepang, setelah AS hampir menemukan kesepakatan dengan China," jelas dia.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA